Trattoria Ristorante Italiano, Revamped

Tavola Pizza

UPDATE: Trattoria sudah pindah dari Uskup Agung ke Gedung Forum 9, baca reviewnya disini

Tidaklah mudah menyicipi pizza yang enak di kota Medan. Setelah selama ini kami dimanjakan oleh pizza dari PizzaHut akhirnya kami mendapat kesempatan untuk mencoba cita rasa pizza Italia asli (paling tidak mendekati aslinya) di Trattoria, sebuah ristorante Italia yang terletak di jalan Uskup Agung – Medan ini. Restoran yang sebelumnya menyajikan makanan yang mengandung babi ini, sekarang re-launched dengan “no pork policy” di dalam menu barunya (Bye-bye porkie). Kedatangan kami disambut oleh Bpk. Raymond, manager Trattoria dan sepiring welcoming Bruchetta, Hidangan roti panggang dengan irisan tomat yang cukup segar untuk membuka appetite kami.

Bruschetta tomato

Atas rekomendasi dari Bpk. Raymond kami pun dihidangkan berbagai hidangan spesial ala Trattoria. Sesuai dengan misi awal untuk menikmati cita rasa asli pizza Italia, kami direkomendasikan Tavola Pizza (150rb) (red: Tavola berarti meja ataupun papan dalam bahasa Indonesia), sebuah “Pizza Mega Besar” yang merupakan toppingnya bebas dipilih dari daftar “pizza” mereka. Tavola Pizza kami setengahnya dihiasi oleh Turchetta E Funghi (daging kalkun asap dengan jamur) dan Mangiafuoco (pepperoni sapi, wurstell sapi, jamur dan irisan cabe). (red: wurstell; semacam sosis). Yang membuat Tavola Pizza ini spesial selain porsinya yang mantap (cocok untuk 3-4 orang) juga base doughnya yang terasa crunchy di luar tetapi cukup lembut di dalamnya, memberikan dimensi lebih dalam menikmati sebuah pizza, tidak ketinggalan dari segarnya bahan bahan yang digunakan dan segarnya tomato basenya membuat Tavola Pizza ini pantas menjadi highlight of the day.

Primo Maggio

Tagliolini Neri Al Salmone

Spaghetti Carbonara Rivisitata

Setelah disuguhi Tavola pizza kami juga disuguhi pizza Primo Maggio (51rb) (Pizza medium yang beralaskan saus tomat segar dengan taburan keju Mozzarella, keju Gorgonzola yang biru dengan tekstur yang lembut tetapi rasa yang tajam, irisan pastrami sapi yang besar, dan rucola yang segar, atau biasanya lebih dikenal dengan sebutan rocket salad), Tagliolini Neri Al Salmone (55rb)(Tagliolini yang hitam mengkilat karena tinta cumi disirami saus krim kental bewarna pink karena diproses dari daging ikan salmon memberikan kegurihan dan kelezatan tersendiri untuk hidangan ini) (red: Tagliolini= spaghetti yang lebih tipis), Spaghetti Carbonara Rivisitata (sebuah hidangan spaghetti yang sederhana dengan kuning telur, bacon sapi dan saus keju parmesan)(red: saus carbonara di Tratorria tidak seperti yang kita dapati di tempat lainnya, tidak creamy. Menurut penuturan Bpk. Raymond, saus carbonara seharusnya tidak creamy). Untuk mendapatkan saus yang creamy kami disarankan untuk menikmati Tagliatelle Panna Prosciutto (55rb) (Tagliatelle – pasta lebar, disiram dengan saus keju creamy bertaburan ham sapi).

Tagliatelle Panna Prosciutto

Selain makanan dari menu Primi Di Pesce (Main Course dangan bahan seafood) dan Primi Piatti (Main Course dengan bahan daging), kami juga disuguhi dengan Petto Di Pollo Valdostano (76rb) dari line Secondi Piatti (Second Course). Akan tetapi karena rasa tajam dan pahit dari rucola (rocket salad) yang menjadi isi dari ayam yang dipanggang ini bersamaan dengan keju emmental dan pastrami sapi, membuat kami kurang bisa menikmati hidangan yang satu ini. Selain makanan yang lezat, minuman yang disuguhkan juga tak kalah mantapnya, terutama mocktail bernama Trattoria (special house blend markisa, strawberry dan buah-buahan lainnya) . Selain itu, suasana ruangannya yang elegan menjadikan tempat ini sangat cocok untuk berduaan dengan pasangan, maupu acara dinner dengan keluarga.

Buon appetito!

Petto Di Pollo Valdostano

Fish steak

Cappucino

Trattoria dining table

MakanMana tips: Bagi anda yang gemar mencolek saus sambal pada setiap hidangan anda, kami sarankan untuk membawa botol sambal sendiri, ini dikarenakan kebijaksanaan dari pusat Trattoria yang berada di Bali tidak mengizinkan penyediaan saus sambal pada setiap franchisenya.

Alamat: Jalan Uskup Agung No. 17 Medan
Telp: 061-4515166 / 4537017
Senin – Minggu, 12:00 pm – 11:30 pm
Facebook | View Map direction

14 Replies to “Trattoria Ristorante Italiano, Revamped”

  1. Trattoria adalah salah satu Restoran makanan Import yang udah ter-mutilasi untuk menyesuaikan dengan kondisi Lidah orang Medan. Saya setuju dengan comment nya bro Frendrick, sungguh disayangkan, tapi inilah kenyataannya. Di Medan market consumer tidak sebesar kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Alasan management Trattoria untuk tidak menjual daging babi pun bisa saya pahami.

    Anda coba deh, rutin tiap weekend selama dua bulan ke Trattoria, pasti orang2 yang datang kesana orangnya yah itu itu aja. Kenapa? yah karena market size kota Medan yang penggemar makanan Itali yah sebatas itu aja.

    Untuk harga dan kwalitas makanannya, kita harus akui kebanyakan import, bahkan chef nya pun import, tapi kenapa anda tanyakan semakin hari qualitas makanannya menurun? Karena terpaksa harus menyesuaikan dengan Market kota medan.

    Mereka terpaksa tidak menjual daging babi, dengan harapan bisa memperluas customer base mereka, tapi apakah efektif? Yah dikit banyak pasti ada, seberapa banyak saya tidak tau. Tapi apakah anda berani membuka satu Restoran mirip seperti Trattoria yang menggunakan daging babi? Saya yakin you won’t survive seh, kenapa? Satu Trattoria di Medan aja udah terpaksa ubah strategi untuk menjaring customer, apalagi ditambah dua Trattoria? Apakah market nya tambah? I don’t think so, coba aja siang2 ke Trattoria ato weekday kesana.

    Seperti comment saya sebelumnya ttg Havana, semua restauran seperti Trattoria, Pizza Hut, McDonald, KFC, Sushi Tei, dll merupakan korban market local, terutama kota Medan. Beda di kota besar dimana disana banyak pendatang dari negara lain, Medan is not, Medan is a small city with not much diversification, dan mayoritas masih suka makan Pizza dengan Chili Sauce (No offense ya its a matter of preference).

    Saya pernah diceritain ama temen saya orang Italy waktu zaman saya masih kuliah. Kita dulu kalau kuliah makanan yang paling praktis itu adalah Pizza, dia ceritain ke saya sejarah pizza, dan budaya orang Italy. Dia cerita gini: Kalau di Italy, kamu diundang makan ke rumah saya, trus yang masak mama saya atau nenek saya, trus elo minta Keju Parmesan, percaya lah elo bakalan ga diajak bicara selama elo masih di rumah gw. Kenapa? Berarti elo menghina masakan Mama dan Nenek saya. Serem ya denger nya?

    Trus dulu juga, ceritanya masih sekitaran Trattoria dan Pizza, (Sorry agak panjang tapi patut disimak utk tau kenapa TIDAK ADA CHILLI SAUCE di Trattoria) Waktu saya magang di Jakarta, di gedung perkantoran tempat saya kerja ada restaurant Trattoria pertama di Indonesia, Chef dan one of the share holder nya adalah orang Italy asli, esentrik, naek Harley dan Bandana kepala dengan rambut panjang, tiap pagi parkir di depan gedung. Terus 2-3 tahun yg lalu saya kembali lagi ke gedung itu, untuk bertemu temen lama saya yg masih kerja di gedung perkantoran sana, saya liat Trattoria nya udah ga ada, berubah nama jadi lain. Saya nanya kenapa? Ga laku ya? Ternyata BUKAN. Ternyata share holder yg lain ribut ama Chef Italy nya ini, kenapa? Karena CHILLI SAUCE ini lah mereka ribut. The Italian Chef nya ngotot TIDAK MAU serve Chilli Sauce, sedangkan Share Holder yg lain which is orang indonesia ASELI, mau Chilli Sauce. Ribut punya ribut, karena yg punya duit adalah Share Holder orang indo, akhirnya Chef nya pun di DEPAK!!

    Jadi sebenarnya kita sebagai market harus nanya kepada diri sendiri dulu, apakah kita siap menerima makanan budaya lain apa adanya? dan learn to like it as it is? Saya rasa kita belum siap. But it is not necessarily is a bad thing, karena soal selera sapa yang bisa jadi hakimnya? Lah yang bayar juga kita. Tul gak?

    Yang penting ketika anda makan makanan asing, anda suka ya udah rekomendasikan ke teman, kalau anda tidak suka, ya udah diam-diam aja, simpan di dalam hati, mungkin makanan itu bukan tidak enak tapi tidak cocok saja dengan selera kita, tidak bole bilang tidak enak, bilang aja tidak cocok dengan lidah saya. Selesai.

  2. they should consider the eating culture of Medanese. Perhaps the Italian don’t like chili sauce but we do. We require chili sauce very very much and it ain’t expensive to provide one bottle on each table.

  3. I just finished my dinner @ Trattoria celebrating a little bday party n …. Surprised!!! I got 100% free dining from Citibank’s lucky dip. My big thanks to Trattoria and Citibank. I took this as a gift for my birthday….thank you Trattoria. Thank you, Citibank

  4. gua berasa trattoria kok kualitas makanannya makin lama makin jauh y? sejak concept no pork yang sangat gua sesali, makanannya keknya semakin dikurangin aja dari segi kualitas. saya baru dinner minggu malem yg lewat, yang paling noticeable tuh chilli powdernya yang uda jauh dari sebelumnya. sewaktu ditanyain kepada pelayan, katanya karna bahan chilli powdernya yang udah diganti dari cabe rawit ke cabe biasa. jujur aja, sejak concept no pork, yang buat gua pengen kesana terus tuh chilli powder ama tagliolini salmonnya. tapi skrg, chilli powder jg dikurangi? well, very dissapointing! pelengkap semacam chilli powder aja musti dikurangin keknya gak etis banget (mengingat compliment aja udah banyak yg dikurangin), mengingat harga menunya yang juga uda direvised (naik harga tentunya) setelah renovasi. Pizzanya jg skrg too much tomato sauce..

    Overall, gua yg dulunya trattoria freak, untuk skrg SANGAT KECEWA. Semoga dari pihak trattoria bisa memperhatikan.

    no offense

  5. I came back after one year, I ordered rosticciana, but they told me that you do not need more pork……
    I saw the menu, as always very different, nothing is missing
    snepper the Board, then you really delicate and always bring the limoncello, it seems to be in Italy
    I’m curious to know what the chef prepares for s.valentino ….

  6. sejak setahun ini tinggal di Medan, Trattoria jadi pilihan utama buat black tie dinner. harganya pas, rasanya delcioso,dan menunya otentik Southern Italy.

    seneng rasanya mereka milih Medan sebagai salah satu cabangnya šŸ™‚

Berikan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s