Lontong Mamak, is it as good as our own Mamak’s cooking?

2016_0521_19331700

Entah mendapat ide dari mana, gerai sederhana ini ditabalkan dengan nama Lontong Mamak (Tanpa Santan).
Nama “Mamak” terinspirasi dari MakanMana kah? #WhoKnows.

Yeeepp, kata “TANPA SANTAN” harus digarisbawahi atau diketik dengan huruf besar. Sesuatu banget ya kan? (kita bahas nanti di penghujung acara ya, guys. Yang enak-enak sisain untuk trakhir aja).

Mari kita mulai ulasannya yuk!

Mamak ini berjualan setiap harinya mulai jam 6 sore hingga cukup malam (saya tidak yakin sampai jam berapa). Lalu mengapa tidak mulai dari pagi hari? Ok, sebab Lontong Mamak menempati teras sebuah ruko yang pada pagi hari merupakan sebuah toko, sehingga pelanggan Mamak harus bersabar menunggu hingga toko tutup baru kemudian beraksi. Hehe.

Dilihat dari segi desain, tempat ini jauh dari kata instagrammable, atau istilah lainnya, “Tempat ini bukan tempat gaul”.
Tempatnya sendiri sebenarnya cukup nyaman dengan sebuah steling kaca yang memajang Neon Box “HALAL”, juga beberapa meja dan kursi plastik untuk dine-in. Suasana makan disini lumayan asik, ditemani dengan angin sepoi-sepoi dan sering kali kucing juga suka ikut nimbrung dibawah meja, hahhaha. Dan biasanya lumayan ramai asalkan hujan tidak mengguyur.

2016_0521_19494900

Aneka lauk pauk yang terpajang di dalam steling tampak sangat menggoda dan menarik, kepingin rasanya ambil piring sendiri dan menyendoki semua lauk-lauk itu. Saya suka galau kalau pilihan terlalu banyak, and I always end up over-ordering.

2016_0521_20002800

Nahh, ini yang tertangkap lensa kamera pada rak bawah, ada rendang sapi, sambal telur, tempe goreng bacem, keripik kentang, tauco, tumis buncis, sambal hijau dan merah (tlg abaikan perut seksi Mamak ya. hihi..)

Dan masih ada banyak pilihan lauk di rak atas, maaf ketika itu sedang lapar berat sehingga tidak sanggup lagi megang kamera untuk foto rak atas. Alesan banget ya, kalo lupa ya bilang aja lupa. Hahaha.

2016_0521_19331700
Lontong Mamak, dengan Ikan Sambal, Rp. 20rb.

Ini nih, bintang tamu kita, Lontong Mamak Tanpa Santan.
Seriously, I will not know that this is coconut milk-free if I was not told. I, again, seriously cannot differentiate between the usual curry (with tons of coconut milk) and this.  This is so so good! Ini enak beneran, ga cuma iklan seger!

Nahh, disini terlihat jelas kan apa-apa saja lauk nya. Warna kuah kari sangat cantik, persis seperti kuah kari bersantan yang kaya rempah. Ikannya segede gaban, wooii! Dan yang paling penting, sambalnya lumayan nampol untuk saya dan bahkan berlabel “sangat pedas” untuk teman saya.

So, for you guys who are concerning about health, atau yang berteman intim dengan si kawan yang namanya KOLESTEROL, go for this! You can slurp the curry like nobody’s business like what I did last time! Yipee yipee horrayy! But wait, kandungan lemak yang tinggi pada creamer juga bisa membuat bobot tubuh melonjak. Buah Simalakama ya kan? Hahhaa.

Paling ngga, sekarang anak-anak MaMa sudah ada tambahan list baru untuk gerai yang menyajikan makanan tanpa santan.
It, at least, sounds healthy right? And I’ll save the Nasi Gurih and Nasi Lemak for my next visit.

Trus, pertanyaan di judul postingan ini sudah terjawab belum ya?
Go try and figure out the answer yourself ok?

Side note : This is the review from my visit a few months ago. If the standard remains the same, then this review is valid.

Lontong Mamak
Jln. Boulevard Raya, Komplek Cemara Asri, Medan. (same stretch with Old Ocean Restaurant)
Operational hours : 06pm – finished

3 thoughts on “Lontong Mamak, is it as good as our own Mamak’s cooking?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s