Tok Tok sebenarnya bukan sejenis makanan. Berawal dari cara sang penjual yang berkeliling menggunakan becak diiringi ketukan bambu dengan irama “Tok Tok Tok…” Disinilah makanan ini akrab di telinga masyarakat Medan.

Jenis makanan ini banyak dijual di tahun 90an, sayangnya belakangan ini sudah susah menjumpai makanan eksotis ini karena selain yang berjualan kebanyakan tidak menetap *menggunakan becak berkeliling, selain itu minat masyarakat Medan terhadap makanan ini sudah tidak setinggi dulu lagi. Salah satu gerai Tok Tok yang paling populer di Medan dijual oleh Asek di Jalan Kalimantan simpang Jalan Sumatera.

Kami masih ingat ketika dulu ketika sekolah di salah satu perguruan swasta yang dekat di Jalan Kalimantan, nama Asek mungkin saja bukan nama asli sang penjual, melainkan sebuah nickname yang diberikan pembeli, karena acek yang suka dirty jokes ini *that’s what we heard. Dan ternyata setelah hampir 10 tahun semenjak tamat SMA, dan hampir 30 tahun acek ini berjualan, perangai acek ini masih sama! Dengan usianya yang mendekati umur 70 ini, Asek masih tetap humoris, rendah hati, dan friendly.

Anyway, Tok Tok ini ialah sejenis makanan eksotis, karena lauk makanan ini terdiri dari jeroan babi, dari kulit, darah, usus, dan dicampur dengan kangkung dan tauge, serta kerupuk dan akhirnya dilumuri saus pekat kecoklatan dengan rasa yang sedikit manis. Tidak semua menyukai makanan ini, anda bisa saja mencustomize apabila tidak menginginkan darah atau usus dan bisa digantikan ke yang lain. Dan memang apabila anda tidak makan jeroan, cobain aja deh hanya kerupuk dilumuri saos, kerupuk Asek ini memang mantap digabungin dengan saosnya. Sebagai tips, nikmatilah makanan ini seketika disajikan dalam kondisi panas, karena apabila sudah dingin, bau amis akan keluar dan rasanya tidak begitu segar lagi.

Satu porsi makanan ini harganya Rp 15.000. Tetapi tergantung juga, beberapa konsumen hanya membayar Rp 10.000. Mungkin saja langganan tetap atau mungkin saja Acek ini sudah mau pulang.