1 Year Later: CHEF’s Series, Our Journey So Far in Filmmaking

Last year, we onboarded video team in Makanmana. The objective is so that we can explore food from different medium and angle. Sebelum ada video, review di blog hanya sebatas tulisan dan foto, and let’s be honest 10 years of doing the same thing started to get boring.

So when we reached that plateau, we challenge ourselves, again.

Jujur, kru video ini hanya punya sedikit background kuliner. But I respect their enthusiasm. So we allow lots of room for trial and error. You might wonder why we have lots of playlists in our youtube channel.

So far we’ve tried Quimak (Quick Makanmana Guide), a short and sweet video review, usually in 2–3 mins duration. We had MaChan (MaMa Challenge) yang mana ini lebih fun going, trying to reach younger audience, but so far didn’t see any success in this. Highlight — similar to Quimak but no host and usually semi commercial, and lastly…

Chef at Home.

I’d like to put Chef at Home as our signature series. Yes it has the lowest views among other videos, but our main objective is to gain better understanding on proper filmmaking technique.

Jadi ketika kita men-develop konsep ini, saya jadi terpikir, why not kita feature aja sekalian usaha rumahan yang enak tapi pengelolanya bukan individu yang mahir berbisnis.

Chef at Home 01 : Harry—Thai Braised Pork Hock

Produksi pertama ini kami totally clueless dan went unscripted. Tentu saja dengan nol pengalaman, our first guinea pig was Harry, who has deep affection with pork.

Harry is now our chief strategist at Mana Aktiva, a new company we just formed. During free time (which most likely no more) he liked to cook. Upon finishing first video, we started to gain experience on how to do better next.

Chef at Home 02 :  Leo NelvinMr Prawn noodle

My first encounter with Leo Nelvin was when he opened a PO for his yam rice, followed by prawn noodle. Saat itu sebenarnya sudah banyak bisnis rumahan seiring boomingnya social media platform seperti Instagram yang sudah banyak dipakai orang.

Berhubung kami banyak sharing di whatsapp, saya coba tawarkan apakah bersedia untuk kolaborasi, which was then warmly welcomed.

Chef at Home 03 :  Anthoni & Wife—Pigzza

Kreasi Pizza di Medan sudah banyak tentunya, namun so far hanya Trattoria dan Pigzza yang menyajikan pork. Kata kunci ‘pork’ ini yang menjadi faktor utama Anthoni dalam berbisnis rumahan, menjadikannya lebih unik dari vendor-vendor Pizza rumahan lainnya.

Every members are welcomed to try, and every editor (the one who edit the video) has different touch. 2 video sebelumnya yang diedit oleh Ronny (our Sr. Editor) terkesan lebih slow and emotional. Di video Pigzza yang diedit oleh William, bawaannya lebih casual, santai dengan background yang lebih cheerful.

Chef at Home 04 : Eugenia—Uno La Eve

At first glance, produk-produk Uno La Eve boleh dibilang seperti terbuat dari Jepang, dengan beberapa imbuhan kalimat Jepang dibawah logonya. Produknya sendiri juga — Hokkaido Cheese Tart.

Pertemuan saya dengan Eugene juga boleh dibilang accidental. She reached me on WhatsApp upon promotional inquiry. I’ve tried her product prior to that and was impressed. She put effort on the product and stand out from the rest when it debut on one of food bazaar.

Chef at Home 05:  Mrs Khim—Homemade Mama K

Jadi sewaktu mulai produksi untuk Chef At Home seri ke 5 ini, tim video juga udah mulai occupied dengan project video lainnya. Berhubung CAH (that’s our project codename) ini deadline-less, saya sendiri yang take role to edit.

Shooting Mrs Khim juga ada challenge tersendiri karena beliau ga fasih berbahasa Indonesia. Our interview didn’t end so well because audio pace was fast to support slow pace video.

And it finally gave me sense on why editing is not just slapping footage and call it done.

Chef at Home 06 : Margaret Tatta—Bento by Tatta

There are probably more people than I can count who make bento for their kids in Medan. Tatta is exceptional. Juggle through her instagram and you’ll see why her feeds has become source of inspiration.

Di video ini kami ingin menunjukkan sisi kasih sayang seorang ibu terhadap anak-anaknya yang dicurahkan dalam bentuk bekal makan yang dikemas dalam bento karakter yang imut dan kreatif. It’s not just passion, it’s love.

Chef at Home 07: Ny Lie—NF Briyani Rice

It’s unique to see Briyani Rice cooked and served by Chinese. Nyonya Lie married to a Pakistani husband dan berhasil menyajikan hidangan ini as authentic as possible. Saya melihat ada potensi di masakan ini berhubung langkanya kuliner khas Timur Tengah ini di Medan.

Chef at Home 08 : Peonie—Toko Kue Tanpa Nama

It’s funny to see a shop name, without a name. Peonie dulunya berkarir di industri game and advertising ini akhirnya hijrah dan melanjutkan resep ibundanya. Ketika wanita-wanita muda sekarang sibuk dengan olahan pastry khas luar sana, Peonie justru memperdalam olahan kue tradisional, and we found it interesting to be documented.

Chef at Home 09 : Jaya Pranata—2nd Indonesian Aeropress Championship 2017

Beberapa komen yang kami selalu terima ialah durasi Chef At Home yang terlalu singkat. Dua hingga tiga menit mentok (although it took weeks to finish it). Jadi pada episod ini kami mencoba dokumentasi yang lebih longform. 10 minutes to be exact.

Shooting sendiri juga terbagi menjadi beberapa hari dan split ke berbagai lokasi. Ini juga menjadi benchmark kami bagaimana melalui manajemen produksi yang lebih panjang di sela projek komersil kami lainnya.

At this point, Ronny sang editor kami pun mulai merambah ke role yang lebih luas lagi, merangkap produser dan director.

Couple of internal revisions and we’re happy with the outcome.

Chef at Home 10 : Rudy & Sese—Snack Roso 5353

Film ini lebih bercerita ke asal muasal susahnya menjalankan sebuah usaha, lalu bagaimana usaha tersebut melalui proses dan peralihan generasi. Dari usaha tradisional yang kemudian dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman.

Lots of inspiring story saat syuting, mendengar nasehat dari Bpk Rudy dan Ibu Sese yang pernah di titik terendah dalam hidup mereka. Definitely worth a watch.

Episod 10 ini merupakan episod terakhir sebelum kami menutup tahun 2017. And there goes our experience in a year producing a cinematic kind of food documentary. We learned and improved from each episode and repeat.

Banyak yang bertanya, bayar berapa sih untuk diliput? Let me tell you, It’s FREE.

Keputusan untuk memilih para vendor ini purely based on interest. Semua invididu yang kami approach ini achieve our standard, memiliki tekad yang kuat, konsistensi dalam menjalankan usahanya dan senang berbagi.

Demikianlah 10 video ini sekaligus merayakan 10 tahun blog ini berjalan.

Thank you sincerely for following our journey. Semoga di tahun 2018 tim MaMa dapat menyajikan konten baru yang lebih challenging dan exciting!

DSCF0879.jpg
Rewarding ourselves with 1st Company Trip in Eco Lodge Bukit Lawang

4 thoughts on “1 Year Later: CHEF’s Series, Our Journey So Far in Filmmaking

  1. Thank you MaMa.
    The only source that i can trust.

    mau Question donk.
    For Video series apakah harus tentang kuliner? atau other industry jg bs?

    1. Thank you Dikent. Berhubung kami lebih suka mengupas tentang kuliner maka saat ini hanya seputar kuliner, but who knows someday we’ll do travel as well ✌️

  2. This is a great insight, big applause for your crew Leo… and keep up the good work. I’m sure a big fan of your new medium… keep me posted on my mail bro 🖒

    1. Thank you Jackson! Actually I’ve discarded Medium. The platform hasn’t shown any update and since they implemented pay walled article, it impacted page load performance. Too bad though I really like their editor and everything

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s