Warung Nasi Memeng – Dari Siantar Bercabang Di Medan

Nggak ada rencana sama sekali untuk singgah di Warung Nasi Memeng pagi itu, meski tempat ini sudah menjamur di “To Visit List” kami. Awalnya, gue dan Hardy hanya berencana berburu sedikit sarapan dan kue di tengah keramaian dan beceknya jalanan Pasar Beruang. Well, sedikit gerimis yang masih mengguyur pagi itu bisa jadi alasannya. That didn’t stop us from looking for breakfast that morning.

To make it short, we’ve found what we’re looking for.

Sambil berjalan menuju tempat parkiran kendaraan, kami sedikit berdiskusi tentang destinasi berikutnya. “Kali ini yang dituju harus makanan berat“, kata gue. Memang pagi itu yang kita cari hanyalah beberapa kue yang umum dijadikan sarapan (menjawab pertanyaan pembaca yang bingung dengan apa yang kita cari di pasar tadi). Gue buka Hp, buka agenda Makanmana, scroll ke bagian “To Visit List” dan dengan mantapnya memilih Warung Nasi Memeng sebagai lokasi berikutnya (karena tempatnya cukup dekat).

IMG_3337

Steling Nasi Memeng

Tidak jauh kami menggeber motor kami sejak beranjak dari pasar tadi, kami melihat ada tulisan Nasi Memeng di steling pada salah satu ruko di sebelah kiri jalan. Saat itu bagian dalam steling masih kosong. Tidak ada satu makananpun yang terpampang menggoda di sana. “Oh, kami buka kok. Sayurnya sudah siap. Tinggal tunggu diangkat (menuju ke steling) saja“, kata seorang pria tua yang ternyata pemiliknya.

IMG_3352

Si Pria Tua dan anak-anaknya.

Sambil menunggu pesanan kami diantar, kami memperhatikan Si Pria Tua tadi mengambil langkah menuju ke meja kasir di bagian kanan ruangan dengan seorang ibu-ibu yang sedang duduk di belakangnya, which is his wife. Dan betapa terkejutnya kami saat mereka justru berbincang dengan menggunakan bahasa Hokkian. Maklum dari segi penampilan dan paras wajah si ibu, tidak mengherankan jika kami menginterpretasinya sebagai non-Tionghoa yang mungkin bakal asing dengan bahasa Hokkian.

Okay! Simpan dulu pertanyaannya untuk nanti. Kita lanjutkan saja dulu berhubung makanan sudah diantar.

IMG_3360

IMG_3347

Nasi Campur/Sayur (mana yang benar ya?)

Penampilan dari Nasi Sayurnya membuat mata berbinar dan perut berguncang. Meski beberapa jajanan kue pasar tadi sudah kami kunyah, tapi aura dari Nasi Sayur ini ternyata begitu kuat. Sepiring nasi dengan isiannya yang berupa sayur nangka, kuah gulai, tauco, keripik kentang yang diparut tipis dan bihun. Ehem! Nasinya terbilang sedikit memang. Tidak cocok untuk gue yang perlu tenaga lebih banyak untuk mengangkat beban tubuh gue yang besar.

IMG_3364

Nasi Tambah

Langsung saja kami panggil pelayannya untuk pesan nasi tambah. This is the real Nasi Tambah. Bukan cuma diberi nasi putih, tapi termasuk dengan sayurannya. Ohhhh, sesi foto demi artikel ini bener-bener menyiksa :D. Kami harus melihat makanan-makanan ini tidak tersentuh lidah kami begitu lama demi kami pampang di blog ini untuk kamu baca.

Telur Rendang dan Ikan Sambal menjadi pilihan gue hari ini, sedangkan Hardy cukup puas dengan Telur Dadar dan Ayam Goreng.

IMG_3354

Telur Rendang

IMG_3362

Ikan Sambal

Tidak lama setelah suapan pertama Telur Rendangnya, gue melangkah ke daerah steling dan minta tambah bumbu rendangnya. Kira-kira kenapa? Cocok di lidah gue! Rasanya dominan asin dengan aroma rempah yang kuat. Gue suka aroma santannya yang masih terasa daripada hilang tertutup aroma rempah.

Ikan Sambalnya juga tidak mengecewakan. Apalagi dengan rasa sambalnya yang manis manis gurih. Klop!

IMG_3342

Telur Dadar

IMG_3344

IMG_3361

Ayam Goreng

Gue melihat Hardy sudah mengusap-usap perut pertanda kenyang di seberang meja. Tidak lama, gue dan Hardy berangkat menuju ke kasir untuk bayar dosa-dosa kami di meja tadi. “Koko ini makan apa saja tadi?”, said the lady to her daughter in Hokkian. Dengan tak sabaran, gue bertanya ke beliau tentang kemampuannya berbahasa Hokkian TANPA ADA KESALAHAN INTONASI.

Damn. Gue dicuekkin. #KZL #CumanTersenyumKeGueDenganIkhlas

Okelah, ganti pertanyaan. Ternyata pusat dari Warung Nasi Memeng yang di Siantar masih beroperasi. Awalnya gue pikir Nasi Memeng ini pindahan dari Siantar. Maafkan kebodohan gue yang nggak bisa membedakan “Cabang dari” dengan “pindahan dari” pada tulisannya di steling. Yang di Siantar sekarang dijalankan oleh tante dari Si Ibu tadi.

IMG_3346

Tuh, ada gue dan tulisannya yang besar dan jelas.

Ngomong-ngomong, makanan di sini tidak mengandung babi (nggak pakai kata “Halal” karena sertifikasinya bayar, nanti Makanmana kena charge lehhh). Untuk yang muslim boleh dituju nih tempatnya, yang pastinya setelah akhir bulan puasa ya (artikel ini ditulis saat bulan puasa).

Untuk menemukan tempatnya, sangat gampang sekali. Lokasinya yang strategis karena berada di jalan utama membuatnya searchable dan reachable. Kalau kamu sedang berada di Jalan Wahidin dari arah Jalan Thamrin menuju ke Jalan Aksara, kamu akan menemukan tempat ini di sebelah kiri jalan sebelum jembatan simpang Jalan Sulang-Saling.

Jadi, kalau ada rencana kemari boleh banget ajak gue dan tim. ^^

Warung Nasi Memeng
Jalan Wahidin, sebarisan Euro Premiere Bakery
#halal
Jam buka: 10.00 – 13.00 WIB
Lokasi: https://goo.gl/maps/BEAdkZkSx6A2

  1. Btw Warung Nasi Memeng yang di Pematangsiantar letaknya sama di Jalan Wahidin juga ヽ(‶・ω・)ノ

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s