Seberapa Banyak Yang [Kita] Ketahui Tentang Kue Bulan?

Nggak lama. Bener-bener nggak lama lagi setelah tulisan ini diterbitkan, etnis Tionghoa akan segera merayakan Festival Kue Bulan atau Festival Pertengahan Musim Gugur (Mid-Autumn Festival). Termasuk etnis Tionghoa di Indonesia, Medan, secara khususnya. But, seberapa banyak sih yang kita ketahui tentang Festival Kue Bulan?

Bahkan kami sendiri melakukan beberapa riset dulu untuk verifikasi informasi yang kita ketahui dan mencocokannya dengan “tujuan Festival Kue Bulan yang diceritakan turun-temurun dari orang tua”. How much do [WE] know? Let us share what we know to you.

Madam Souvenir Mooncake

Mooncake dari Madam Souvenir, Medan. (Photo by: Managrafi)

The History

Bagaimana bisa kami tidak melakukan riset dulu sebelum membuat tulisan ini? Bahkan untuk sejarahnya saja sudah terdapat berbagai versi cerita. Setidaknya ini yang bisa kami simpulkan…

Kue bulan pada awalnya dibuat sebagai ucapan terima kasih kepada dewa dan leluhur di pertengahan musim gugur, yang biasanya merupakan musim panen di bidang agrikultural. Kue bulan yang dibuat dipersembahkan sebagai sesajian atau persembahan untuk tujuan ritual sembahyang.

IMG_8376

Mooncake dari Chen’s Kitchen, Medan. (Photo by: Managrafi)

Pada versi yang mirip, kue bulan yang telah digunakan untuk sembahyang, dibelah di saat bulan penuh datang dan dibagi-bagikan ke anggota keluarga inti (keluarga inti: ayah, ibu, anak, dan keluarga lain yang tinggal serumah) untuk dinikmati bersama.

Beberapa cerita rakyat mengatakan bahwa Kue Bulan sudah muncul sejak zaman Dinasti Ming. Namun menurut hasil penelitian mendalam dari beberapa sejarahwan, dicatatkan bahwa Kue Bulan sudah ada sejak zaman Dinasti Song which is far before Dinasti Ming. Yang pasti sih kami belum ada di zaman segitu.

The “Drifted” Purpose

Kultur ini bertahan cukup lama, sangat lama dan sangat sangat lama. Sampai suatu saat, fungsi Kue Bulan mulai beralih.

Masih pada versi cerita yang sama, Kue Bulan “menambahkan” tujuan baru, meski tidak meninggalkan tujuan lama.

Dari yang sekedar untuk tujuan ritual sembahyang dan dinikmati bersama oleh keluarga inti, kue bulan mulai dikirimkan ke tetangga, teman, atau saudara jauh. Masih dengan ‘alasan’ yang sama yakni dinikmati berbarengan oleh keluarga inti dari si penerima pemberian.

IMG_7041

Mooncake dari Madam Souvenir, Medan. (Photo by: Managrafi)

Anyway, alasan mengapa Kue Bulan dibentuk bulat itu ya tidak jauh-jauh dari ideologi di atas. Bulat melambangkan keutuhan, kebulatan, adanya harmoni dalam keluarga yang bulat dan utuh, tidak terputuskan karena tidak bersudut.

Alright…. Kita sudahi saja sejarah yang cukup singkat ini. Kalau ditelusuri lagi nggak bakal ada habis-habisnya.

Gifting

Berangkat dari sana, beberapa oportunis mulai melihat adanya peluang bisnis dengan mengangkat sentimen “gifting” dari Kue Bulan. Tentu saja muncul pihak yang dengan sengaja membuat Kue Bulan untuk dijual.

Ibarat pepatah, di mana ada gula, di situ ada semut. Tidak dipungkiri, pada masanya, bisnis Mooncake cukup berkembang yang mendorong masyarakat lainnya untuk mengambil jalan yang sama dengan menjual produk sejenis. Satu demi satu produsen Mooncake bermunculan. We’re not talking about present time. This phenomenon took place far before Indonesia was known as “Nusa-Antara”. Really far before that.

babura (3)

Mooncake dari Babura Dimsum, Medan. (Photo by: Savorsnap)

Guess what? Persaingan bisnis meningkat. Hanya beberapa produsen yang sudah lebih dulu dikenal publik yang mampu bertahan, dengan mengandalkan nama baik yang sudah dibangun dari nol.

Meski begitu, Kue Bulan sampai sekarang masih menjadi lahan emas yang siap digali dan didapatkan keuntungannya. Kebutuhan akan Kue Bulan melekat sangat kuat pada tradisi etnis TiongHoa. Mulai dari yang sekedar bertamu sampai ke acara pernikahan, Kue Bulan masih difungsikan sebagai bahan pemberian.

Lalu bagaimana menepis persaingan bisnis ini?

MODIFIKASI!

IMG_8754

Jelly Mooncake dari Xuan’s Pudding, Medan. (Photo by: Managrafi)

Now, we’re talking about present time…

Modifikasi, perkembangan dari traditionally baked Mooncake menjadi kue bulan dengan berbagai rasa baru, berbagai bahan dasar yang unik, bahkan merubah bentuk Kue Bulan itu sendiri ke bentuk “non-bulat”.

Jelly Mooncake menjadi salah satu contoh Kue Bulan dengan bahan dasar yang sudah beralih jauh dari bahan dasar mooncake aslinya. Contoh lain modifikasi Kue Bulan adalah Thousand Layer Yam Mooncake, Kue Bulan dengan filling Yam yang memiliki tekstur eksterior yang sedikit flaky.

Rainbow Thousand Layer Yam Mooncake

Thousand Layer Yam Mooncake. (Source: Google Image)

Berbagai brand Internasional juga tidak kalah ikut modifikasi dan membuat Kue Bulan untuk tujuan mendapatkan profit, seperti McCafe dari McD dan Starbucks Coffee.

14888410986_0e26f01d13_o.jpg

Starbucks’ Mooncake (Source: Google Image)

baked-mooncakes

Traditionally Baked Mooncake dari McCafe (Source: Google Image)

Mooncake?

Diluar dari segitu banyaknya modifikasi, apakah Kue Bulan tadi masih disebut “Kue Bulan”?

Setelah perdebatan yang cukup lama dan menimbang berbagai keputusan, kami cukup yakin kalau jawaban IYA merupakan yang paling tepat. Bentuk, bahan dan rasa mungkin berubah dan berbeda, namun kalau diingat dari filosofi asli dan tujuan Kue Bulan itu sendiri which is “dinikmati bersama” maka kue-kue di atas tadi masih termasuk “Kue Bulan” yang dinikmati bersama.

 

  1. 祝大家中秋节快乐!

    Reply

  2. Thanks MaMa… So informative 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s