Setahu kami, RM Negara merupakan lokasi yang sering digunakan untuk acara pernikahan (yang biasanya “SMP—Siap Makan Pulang”. Artinya tamu undangan dikumpulkan dahulu hingga penuh 1 meja (biasanya 10 tamu), lalu langsung dihidangkan nasi putih dan beragam jenis lauk dan sup.

Anyway, selain untuk lokasi acara, ternyata RM Negara menyediakan makanan untuk sarapan dan makan siang dari tenant-tenant yang menyewa lokasinya.

Kunjungan kami kemari sebenarnya karena kami diundang oleh Acek Ationg yang sudah lebih duluan terkenal dengan Penang Hor Fan yang sudah nggak diragukan lagi rasanya. Karena Penang Hor Fan hanya dijualnya di malam hari, maka Ationg berinisiatif menyajikan Penang Kwetiau Theng di pagi hari.

Melihat kedatangan kami, Acek Ationg yang masih duduk berongkah kaki membaca koran sigap berdiri menghampiri kami dan menanyakan JUMLAH pesanan kami. Dua porsi dengan salah satu porsinya diganti dari penggunaan kwetiau menjadi bihun menjadi pesanan kami.

Setelah dilepasnya jaket motor yang warnanya sudah memudar, Ationg langsung mengambil posisi di belakang stasiun kerjanya. Menyiapkan dua mangkuk yang diisi dengan bihun dan kwetiau sambil memasak kuahnya menjadi atraksi yang menyenangkan. Apalagi aromanya yang bertebaran membuat genderang perang di perut makin keras.

Terus terang rasa lapar semakin menjadi setelah makanan dipindahkan ke meja lantaran kami harus fotoin dulu untuk dipamerkan ke kamu-kamu, para pembaca. Presentasinya cukup menggoda dengan berbagai jenis lauk yang disajikan di atasnya.

Kwetiau Theng (25rb)

Berbanding lurus dengan rasanya yang bikin mata berbinar setelah di seruputan pertama bihunnya. Seperti namanya, “Kwetiau Theng” yang berarti Sup Kwetiau, menitikberatkan nilai jual pada kuahnya. Kwetiau dan condiments hanyalah pelengkap (meskipun sedikit banyak kaldu dari berbagai lauk di atasnya menyumbang rasa pada kuah). Entah apa rahasia dibalik kuahnya, namun dari apa yang kami lihat sejak awal proses memasak hingga akhir, Ationg hanya mencampurkan air, kecap asin dan lauk-lauk tadi saat memasak.

I don’t and never say that it’s ‘no micin’, but I’ll agree kalau disebut ‘less micin’ sesuai penglihatan kita.

Bahkan Irvan tidak henti-hentinya menyuapi diri sambil diajak ngobrol oleh Ationg

Karena kami sudah menginjakkan kaki di sini, sekalian saja kami pesan beberapa menu dari stand sebelah yang cukup eye-catchy. Mungkin karena penampakan gambar siobak yang notabene irresistible buat kami.

Owner Tripork paham betul kalau incaran kami adalah B2. Tripork Ricebowl ukuran Jumbo, dengan isian daging samcan goreng dan KimCiBak serta telur dan potongan pangsit goreng, yang lebih dahulu diantarkan ke meja kami.

Jangan lupa siramkan dulu saus yang berwarna kemerahan dan cenderung manis sebelum menikmati ya. Saus ini sudah include saat pemesanan satu porsi Tripork Ricebowl tadi.

Tripork Ricebowl, Jumbo

Tripork Ricebowl ini mirip Siobak Pui, bedanya ya di penggunaan Kimcibak dan Samcan Goreng tadi instead of SioBak dan CharSiew.

If I’m not mistaken, menurut Leo, rasa asin dari daging babinya cenderung dominan, mungkin karena penggunaan 15 rempah berbeda (claimed by the owner) yang lebih terasa aromanya . Dan menurut aku pribadi, dagingnya digoreng terlalu lama sehingga terasa lebih kering dan meninggalkan kesan aftertaste yang sedikit smokey/burnt. We didn’t see it negatively, but mungkin taste preference kami yang belum cocok dengan profil rasa yang seperti itu.

Maksud kami, untuk kamu yang suka asin dan suka tipikal daging babi yang digoreng kering, menu ini mungkin cocok untukmu.

Ditambahkannya lagi menu Bihun Baso Negara dan Bubur Negara. Untuk basonya sendiri terasa homemade, tidak sekenyal produk pasaran. Kuah yang bening mencerminkan citarasa overall makanan ini yang lebih light, cocok buat sarapan. On the bubur side, would be nicer kalo ada sedikit minyak wijen, but then it’s preference. Kedua menu bubur dan baso kuah ini cocok dijadikan sarapan.

RM. Negara

Jalan Negara, masuk dari Jalan Wahidin
06.00-14.00
#nonhalal
Lokasi: https://goo.gl/maps/33aUuc9SrkF2