kwetiaw goreng telur

Akhirnya dapat juga kesempatan bangun pagi untuk mencicipi salah satu kwetiaw goreng yang banyak direkomendasi pembaca. Kebetulan subuh itu harus mengantar anggota keluarga ke airport, setelah usai, kami menyempatkan diri untuk singgah ke kopitiam yang terletak di jalan Porsea (Kalau dari Jalan Bogor, ada jalanan kecil di sebelah bank swasta di bagian sebelah kiri). Awalnya perkiraan kami pasti belum buka, ternyata anggapan tersebut salah.

suasana kopitiam di pukul 07.30 pagi hari

Pukul 6.30 aja udah rame

Jalanan masih sepi, ga sampe 5 menit pun udah tiba di lokasi, tepatnya pukul 6.30 pagi. Herannya suasana kopitiam udah mulai hiruk pikuk, ada yang membaca koran sambil menyesap kopi, ada yang menyalakan sebatang rokok seusai makan, ada juga yang barusan datang lengkap dengan seragam olah raga, tampak juga beberapa pengunjung yang kelihatannya sudah akrab dengan pemilik kopitiam bercengkerama. Suasana di kopitiam lebih didominasi oleh pengunjung laki-laki separuh baya. Kononnya tempat ini juga merupakan tempat hang-out kalangan bos dan pengusaha besar.

Auntieee…Porsinya untuk berapa orang nih?

Pagi itu kami mendapat kesempatan menikmati kwetiaw goreng telur yang dimasak oleh seorang paman. Berbeda dengan Ayee (atau tante) yang ada di foto atas, Ayee ini menggantikan Acek (paman) yang sebelumnya, ‘ganti shift’ ibarat bahasa kantoran. Nah kami kurang tau sebenarnya siapa yang masaknya lebih enak, beda tangan beda jurus kan?

Taste good, in a subtle way

Kwetiaw yang kami cicipi itu porsinya ga terlalu besar, ‘cukup’ lah untuk ukuran sarapan, walaupun ga heran banyak yang tambo. Dari penampakan memang kelihatan biasa saja, setelah dicicipi baru tahu alasan kenapa kopitiam ini rame. Agak susah menjelaskannya, rasa yang ditawarkan kwetiaw porsea ini, boleh dibilang… taste good in a subtle way. Aroma asli dari kwetiawnya sama sekali tak tercium, melainkan harum dari gabungan minyak dan bumbu yang dipakai, dimasak dengan suhu bara api yang tinggi. Mungkin ini salah satu alasan lain kenapa banyak yang tambo, karena tidak membuat anda merasa eneg atau jelak. Kwetiawnya tidak terlalu berminyak, dan rasanya tidak terlalu asin, mungkin karena disesuaikan dengan ‘audience’nya yang notabene kalangan berumur, tetapi ada satu botol kecap asin yang boleh digunakan sesuai selera anda. Pilihan yang tepat apabila anda menginginkan sarapan yang ringan.

Anyway, jam kerja hampir tiba. Secangkir kopi susu hangat dan sepiring kwetiaw goreng nikmat di pagi hari tentunya akan memberikan awal yang baik untuk memulai aktifitas anda. Dan tentunya, setelah anda membayar 25 ribu.

A good meal to start your day

Trivia: Kopitiam ini barusan pindah sehingga terkesan lebih baru, bersih dan luas. Kopitiam yang lama dulunya hanya berjarak beberapa ruko.

Tambahan info dari Niel:
“oma gua perna bilang kenapa kwetiau porsea digemari orang. Karna kwetiaunya bener2 dimasak ampe “mateng”. She explained klo kwetiaunya dibungkus pulang, dan bahkan dibiarin ampe siang, ga akan jadi kya ‘kue’. Sedangkan kalo take away kwetiau laen, boro2 ampe siang ya. 1/2jam aja uda kembang dan jadi kya kue gitu bentuknya. Makanya yg makan disana banyakan orang tua. Selain karna tetap menjaga rasa tradisionalnya, kwetiaunya juga ga berminyak, dan ga asin. So, mskp oma gua uda ga ada gigi, dia masiiii aja mau makan tuh kwetiau. hahha..”