Mie Kangkung Belacan Ahai (Pindah)

kwetiaw belacan medan

All hail the king of mie kangkung belacan Medan. Is it the best mie kangkung belacan in Medan? Historinya sih Ahai awalnya berjualan di Pasar Rame, lokasinya strategis karena banyak ibu-ibu-tante-tante yang singgah untuk makan siang dan namanya mulai melejit semenjak pak Bondhan dari Wisata Kuliner berkunjung ke gerainya dan mengucap kata ‘Maknyos!’.

Kata jimat tersebut sangat ampuh sehingga gerai yang memasang foto pak Bondhan bisa dengan mudah menaikkan harga jual makanannya. *Saat ini merupakan mie kangkung belacan paling mahal di Medan

UPDATE: Ahai pindah ke Jalan Semarang, baca reviewnya disini.

mie kangkung belacan ahai medan

Ahai, without Ahai.

Awal rencana kunjungan ini tak lain untuk mengenalkan mie kangkung belacan ala Medan kepada si Ruby (food blogger Jakarta) yang wiskul ke Medan. Kebetulan tinggalnya di Swisbel hotel maka rumah makan ini menjadi tempat perhentian pertama kami.

Rumah makan yang berada di S.Parman ini jualannya mulai sore hingga malam, karena siangnya pak Ahai berjualan di Pasar Rame. Kami kurang beruntung untuk bertemu dengan pak Ahai, kekecewaan kami pun bertambah ketika makanan kami dimasak oleh karyawannya. After all we paid the same price.

resep mie kangkung belacan

Alasannya? Yah dari harganya dari yang tidak setimpal. Ada sedikit faktor psikologis yang bermain disini. Kalau bukan Ahai sendiri yang masak, kami liat sih ga banyak yang makan disini. Namun ketika bintang utamanya ‘berdansa’ di depan kuali, nah…mulai rame deh.

mie kangkung belacan Ahai

Sederhana aja, coba kalo kamu yang disuruh masak, dengan semua bahan yang dipersiapkan sama persis. Tentu rasanya akan berbeda. Pengaturan temperatur, feeling, dan pengalaman akan membedakan rasa akhir dari sebuah makanan. Kami yakin walaupun chef Ahai sudah melatih karyawannya, masih ada satu hal yang tidak mungkin dapat ditemukan dalam mie kangkung belacan Ahai, and that’s the ‘Soul’.

  1. @zhou_foodsnippets 16 Mar 2015 at 15:22

    I was searching for that so-called “bashing comments”, too bad its all gone. LOL.

    Reply

  2. @zhou_foodsnippets 16 Mar 2015 at 15:05

    That is what I always wanted to put in my writing.
    Banyak gerai kwetiau yg sudah terkenal buka cabang, tapi yg masak bukan si ayi atau acek atau ako nya, so rasanya bagaimana? Bisakah sama persis? Dan yes, very much agreed, harganya kenapa juga sama??? Hmmmm..

    PS : I came back to your blog to specifically look for this particular post 🙂

    Reply

    1. There were some rude comments before but gets washed out cause my site was hacked and restored. But yeah, ironic indeed

      Reply

  3. @launuabeng kwetiaw belacan Ahai saya bandingkan sendiri ama bosnya sendiri yg masak di pasar rame, dan mgk tanpa pemakaian minyak babi, sehingga saya merasa ada yg kurang di kunjungan di s. Parman. Soal porsi saya bukan big portion advocate, lbh enjoy porsi yg pas2an dan pengen balik lg ketimbang kenyang banget tp eneg.

    Soal objektifitas dan sportifitas, mungkin anda dpt mengelaborasi lbh jauh mengenai hal tsb?

    Reply

    1. Rasanya keasinan tuh !

      Reply

  4. Btw, saya lihat udangnya aza uda ngiler sekarang..
    Mauuuuuuuuuuuuuuu
    Hail the King of Mie Kangkung Belacan in my opinion 🙂

    Reply

  5. Makan mana dan Ahai Mie Kangkung Belacan selalu menjadi favourite saya jika akan dan mengunjungi Medan.

    Soal rasa saya rasa selera orang berbeda2. Saya pribadi malah suka makan di S.Parman waktu siang (karyawan yg masak).
    Selain tidak begitu rame dan bisa ngetem ber”wifi” ria, saya juga lebih suka porsinya seperti yg di post Andrew 🙂

    Btw, dear makan mana blog favourite saya, saya sangat berharap setiap review yg di post di blog ini selalu berpegang pada objektifitas dan sportifitas agar bisa menjadi panduan banyak orang dalam mengeksplorasi makanan Medan yg unik.

    Seperti yg saya sebutkan diawal, selere orang berbeda-beda.

    Happy eating all.

    Reply

  6. Dear makanmana.net, mau kasi saran nih, tolong kasi keterangan tentang halal atw tidak halal setiap makanan di resto y diulas . Setahu sayaa,ada jg kan chinese food yg halal. Thx 🙂

    Reply

    1. Hi Rini, thanks for your feedback, sejauh ini kita sudah mengkategorikannya, namun sepertinya kurang diperhatikan. Kategori setiap review sudah dipindah ke bagian akhir artikel. Semoga membantu.

      Reply

  7. Cobain deh kangkung blacan awie di komplek cemara asri sederetan indomaret..the best so far 🙂

    Reply

  8. oh gosh that looks tasty!!!! 🙂

    Reply

  9. Di pasar rame bisa minta “hati” juga,kalau S.Parman targetnya halal jadi no pork… Tapi jujur gw lebih suka nasgor ikan asinnya,dan asisten yang di S.Parman juga lebih bisa di minta nambahin ikan asinnya…hmmm yummy :))

    Reply

    1. Jadi yang di S.parman halal yah? Baru tau gw… haha..

      Reply

      1. Certified sih not yet,tapi Mr.AHai sendiri masang papan no pork di dekat kasir kalau ngga salah ingat.

  10. begitulah resiko kalau makanan yang kita nampak kokinya, kalau nggak dipegang oleh kokinya, ada sedikit mindset yang membuat kita merasa makanan itu nggak enak…

    Reply

    1. Bukan mindset sih, tapi kalo masakan tumis gitu emang susah diwariskan, kecuali kalo mie pangsit yah masih bisa lha, walau harus dikontrol juga… tapi kurasa inilah mindset yang ownernya coba ubah, mungkin beberapa pengunjung baru ga akan perhatiin banget jadi yah apa yang dimasak anggotanya udah jadi ‘standar’ buat mrk

      Reply

  11. Setuju 200% Bro !
    Ini juga yang terjadi pada banyak penjual makanan di seputaran Jakarta.
    Ketika mereka mulai merasa terkenal dan semakin populer, maka pendelegasian pun terjadi. Dengan asumsi bahwa konsumen tidak akan peduli dengan siapa yang masak, maka secara perlahan dan pasti merekapun akan ditinggalkan oleh para penggemarnya.

    Saya masih sangat salut dan selalu terkenang kepada Apek penjual kwetiau di Jl Selat Panjang, yang di usia senjanya ( walapun sudah pernah terkena stroke ), masih menangani sendiri masakannya. Sayang beliau sudah meninggalkan kita semua, tetapi masih ada kenangan foto masakannya di web kita ini.

    Reply

    1. Kisah yang sama dengan mie Tiong Sim jln Semarang. Sekarang pake sistem semua, ada S.O.P. It missed the very essential point here, tapi yah mungkin uang bikin buta semuanya. Mie pangsit favorit saya dulu, melebihi tiongsim yang di Jalan Selat Panjang, ironisnya sekarang malah berbalik.

      Reply

      1. Wah sudah lama saya nggak kangen sama mie tiongsim, soalnya terakhir kali makan rasanya agak gimana gitu yah…

        kokinya kan sudah jadi koki Mie Pansit Alai di Jl. Gandhi kan bro, keknya sodaraan yah ama tiongsim.

      2. Oh ya? Ga notis sih tapi setau gw sih nggak haha.. Mie Alai yah Alai lho yang jualan :p

Berikan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s