fbpx

Sagye Korean: Hallyu Way of Eating Clean in Medan

Sejak kemunculan Hallyu Wave atau persebaran kultur pop Korea secara global, berbagai budaya intrinsik Korea juga menjalar ke Indonesia. Termasuk juga dalam hal kuliner.

Mendengar kata Kimchi, Ramyeon, Tteokbokki dan Budae Jjigae (makanan ‘darurat’ para tentara Korea) sudah menjadi hal yang umum. Sagye Korean is just one simple and closest (literally) example of it. ‘Close’ karena Sagye Korean ini memang berada tepat di seberang BaseCamp Makanmana.

Actually, I’m not really into this “interior stuffs” tapi setidaknya, gue merasa cocok dengan atmosfir ruangannya yang cozy nan sejuk, a place I would like to visit for me-time. Oh ya, I couldn’t figure out fungsi dari meja dengan bingkai besi di keempat sisinya karena menurutku kurang nyaman untuk pengunjung dengan anggota lebih dari 4 orang (butuh dua meja yang digabung). This is minor, anyway.

Sagye, yang dalam bahasa Korea berarti empat musim, menyiapkan empat set menu berbeda yang mencirikan masing-masing musim di Korea. Meski begitu, pengunjung dipersilahkan memesan menu dari ‘musim’ manapun. Sampai saat kunjungan terakhir yang melahirkan artikel ini, menu Sagye masih dalam perkembangan hingga set/musim kedua.

Menu-menu dari Sagye juga diklaim oleh Chef asal Korea (one of the owner) sebagai menu dengan konsep ‘clean eating sebagai bagian dari healthy lifestyle para pengunjung Jelim, skincare treatment yang berada di lantai 3 gedung yang sama.

Cobb Salad Meal, merupakan menu yang paling dulu disajikan sebagai appetizers. Cara penyajian salad dengan memasukkan bahan-bahan ke dalam tabung khusus memang cukup membantu serta terbilang unik dan menarik. Kami tinggal mengocok tabung untuk mencampur selada, potongan kecil dada ayam, olive, tomat ceri, jagung, potongan keju, dan telur. Campuran salad kemudian dituangkan ke dalam mangkok dan ditambahkan salah satu pilihan dressing (atau boleh dicampur sesuai selera).

For a carnivore like me, dressing is the element that I enjoy more than the salad itself. Yuja yang berbahan dasar yogurt akan sesuai untuk kamu yang menyukai rasa asam yang cukup kuat pada saladmu, sedangkan dressing sesame yang dicampurkan dengan saus mayo akan sesuai untuk kamu yang menyukai rasa asin dengan sedikit hint gurih dari biji wijen.

Cobb Salad Meal (60rb)

Not so long after, menu-menu lain seakan kehilangan kesabaran untuk memuaskan selera kami dan kian berdesakan di atas meja. Dimulai dari disajikannya Tteokbokki, Beef Bulgogi, Chicken Galbi, JapChae, Kimchi Fried Rice, Hot Stone Bibimbap, Kimchi Pancake.

Seperti sudah seharusnya, an appetizer must be appetizing and their Tteokbokki met this criteria. Appetizing. Terutama fish cakes yang chewy, lembut dengan sedikit hint aroma ikan yang digunakan untuk mendampingi rice cakes pada menu ini.

Butuh perhatian khusus untuk memastikan rice cakes agar tingkat kematangannya sempurna. Terlalu cepat mengangkatnya dari rebusan akan menyebabkan bagian dalamnya menjadi tidak matang, sedangkan terlalu lama mengangkatnya membuat rice cakes menjadi lembek, hancur dan lengket.

Without further explanation—the thick Gochujang sauce was great with a lil spicy and salty taste.

Tteokbokki (45ribu)

Chicken Galbi dan Beef Bulgogi yang menjadi korban keberingasan kami selanjutnya. Kalau Tteokbokki dimasak sedikit becek dengan bumbu Gochujang, maka Chicken Galbi sedikit kering dengan bumbu Gochujang sudah menempel pada daging karena proses marinate.

Meat was juicy, tasted sweet and nice; our favorite, though. I didn’t try the Beef Bulgogi but it suit others’ palate.

Jap Chae was my personal favorite. Not only me, but others found that this menu was interesting, too. Rasanya mirip char-char ala kota Medan namun sedikit lebih manis dengan tekstur mirip seperti mie sagu yang lembut dan mudah hancur. Meski kelihaan oily, tapi percayalah kalau penampilan tersebut semata hanya karena warnanya yang bening.

Cukup banyak menu-menu yang kami cobain di Sagye Korean. Mungkin karena rasa penasaran kami dalam mengeksplorasi kuliner ala Korea, dan most of the menu suit us.

“Mostly”, not all. Sampai akhirnya kami dihadapkan dengan Kimchi Pancake yang kurang sesuai dengan selera kami. It’s a lil bland and less savory. Texture was nice but we couldn’t find any pleasure from this menu.

Kimchi Pancake (25ribu)

If you’re as curious like us dalam mencoba Korean Cuisine dengan konsep “clean eating”, feel free to take a visit! Ajak kami bila perlu! ^^

Sagye Korean

Jalan Brigjen Katamso, Komplek Centrium
12.00-22.00
#no pork
Lokasi: https://goo.gl/maps/eDDsAgkB5Z92
Irvan Hartan

Irvan Hartan

Copywriter at makanmana.net and Mana Aktiva. Follow my Instagram @180pounds

Leave a Reply