fbpx

Hidangan Teras Asyifa: ‘Nasi Khas Minang ini Belum Pernah Mengecewakan’

Adalah sebuah kesalahan

kalau gue pernah ngeremehin lokasi ini hanya dari penampilannya saja. Sebelum berpindah lokasi, Teras Asyifa berjualan di depan sebuah rumah sewa dengan sterling yang cukup sederhana dan hanya dua atau tiga meja yang disusun di bagian dalam. Rasa enggan gue untuk singgah semakin diperkuat lagi dengan ekspresi flat namun menyeramkan dari si Abang yang jualan.

Bukan sebuah keharusan memang, namun di Padang dan/atau daerah lain, Rumah Makan Padang biasanya bergaya Rumah Gadang, lengkap dengan ciri khas etalase sterling berupa piring yang disusun hingga sedemikian rupa. Tapi tidak dengan Hidangan Teras Asyifa (begitu nama rumah makannya). Pada lokasinya yang baru pun juga tidak ditemukan ciri-ciri khas rumah makan padang, kecuali piring yang hanya ditumpuk sebanyak dua lapis pada sterling.

Hidangan Teras Asyifa

Adalah sebuah penyesalan

ketika gue akhirnya menyadari kalau rumah makan ini more than what I have assumed before. Rumah tempat barunya berjualan ini mungkin saja belum sepenuhnya dimiliki si Abang, yang tersirat pada kalimat yang diucapkan sambil tersenyum kecil: “Ya, doakan sajalah ya.” Tapi saya melihat adanya harapan dan belakangan baru gue sadari growth dari bisnis si Abang.

Gue akui, dari kuah-kuah gulai ikan/ayam dan kuah sayur nangkanya yang sedikit kental dan berlemak sudah cukup untuk memunculkan anggukan kecil dari kepala gue. I don’t know about you, tapi tipikal gulai yang kental dan berminyak pada nasi padang adalah sebuah keharusan buatku :D. Jangan berani-beraninya Anda bahas kesehatan samaku kalau lagi bahas naspad, bisa kena bacok.

Gulai Ayam

Jika nasi Kapau terkenal dengan gulai tambunsu yang merupakan usus sapi dengan adonan telur dan tahu; lalu nasi Pauh lebih identik dengan aneka olahan ikan seperti gulai kepala ikan, maka nasi Padang cenderung lebih terkenal akan rendangnya.

Beranjak dari pernyataan itu, gue rasa Hidangan Teras Asyifa bisa jadi gabungan di-antara-nya atau justru bukan salah satu di antara ketiga itu sama sekali. Teras Asyifa tidak memiliki tambunsu berarti bukan nasi Kapau. Gulai Kepala Ikan dari Teras Asyifa memang memiliki kuah gulai yang menggugah selera dan berwarna kuning kecerahan, daging yang masih menempel pada kepala ikan juga terasa lembut. Namun, ukurannya yang tidak lebih besar dari menu kepala ikan beberapa gerai rumah makan khas Minang lainnya mengurungkan niat gue untuk mengkategorikannya sebagai nasi Pauh.

Rendang Ayam

Nah, kalaupun memang rendangnya ingin ditonjolkan, maka gue akan memberinya predikat “RM Padang dengan Rendang yang Unik”. Masih ingat dengan kejadian salah satu juri Mast*rchef UK yang mengatakan rendang harus bertekstur crispy? Mungkin rendang ini bisa jadi salah satu contohnya.

Potongan ayam digoreng terlebih dahulu hingga kering dan garing pada bagian luar, lalu dibalut dengan bumbu rendang yang juga cenderung kering dan berminyak. Menu rendang ayam ini benar-benar memberi arti kata “kering” yang sesungguhnya.

Rasanya terbilang unik in a very positive way. Di satu sisi, gue nggak ngerasa ini rendang. Di sisi lain, setiap suapan ayamnya terus memberikan kesan kalau gue sedang menikmati rendang. Hard to say! Seperti perasaan saat kamu sedang mendekati seorang yang kamu suka. Kamu tidak tahu apakah dia juga menyukaimu atau dia memang bersikap seperti itu kepada semua orang.

So, kamu yang menilai sendiri Hidangan Teras Asyifa tergolong nasi apa.

Anyway, Ladies and Gentlemen, these are our heroes of the day! Sambal Ijo dan Ikan Nila Goreng (terutama bagian perut).

Untuk yang sering takeaway nasi dari sini, kemungkinan besar akan mengira kalau sebungkus nasinya yang dominan asin berasal dari kuah gulai. Nyatanya, ada faktor lain yang menciptakan rasa asin. Yes, sambal ijo tadi.

Dari berbagai sumber yang gue telusuri, Sambal Ijo Padang umumnya berwarna hijau cerah sesuai namanya, diikuti dengan minyak yang berwarna hijau kekuningan cerah. Lagi-lagi, Hidangan Teras Asyifa seakan melanggar “peraturan” tersebut dan memberikan penampilan Sambal Ijo yang lebih berbeda—of course dengan rasa yang lebih asyik, that’s why it’s called as hero of the day by me. Atau mungkin tidak bisa lagi kita sebut Sambal Ijo dan mengubahnya menjadi Sambal Teras Asyifa?

Ikan Nila Goreng X Sambal Ijo

Oh, apa? Ikannya? Well, aku suka ikan. Haha! Tapi ikan nila goreng di sini menurut gue adalah sebuah keharusan. Entah sudah berapa kali secara berturut-turut gue memesan nasi dengan ‘topping‘ ikan nila goreng. Terutama bagian perut, yang masih terdapat bagian yang chewy, lunak dan berlemak. The part that I can enjoy the most!

Mohon bedakan dengan Ikan Nila di bawah ini! Menunya berbeda.

Sorry, gue lupa nama menu ini. Jarang gue pesan soalnya. 😀

Di Italia, hidangan-hidangan yang disajikan biasanya berukuran besar dan sangat mengenyangkan. Hal tersebut berlanjut menjadi sebuah nilai yang tertanam pada masyarakat dan menjadi sebuah keharusan. Maka dari itu, munculnya Chef Massimo Bottura dengan restorannya yang berkonsep private dining (yang biasanya menyajikan ukuran hidangan yang lebih kecil namun beragam) di kawasan lokal menjadi sebuah tantangan dan cukup menuai banyak pertentangan pada awalnya—sekarang berperingkat No. 1 di The World’s 50 Best Restaurants Awards tahun 2018.

Gue tidak tahu bagaimana sejarah masuknya nasi Padang ke kota Medan, namun beberapa perubahan yang signifikan membuat nasi Padang di Medan cukup berbeda dengan di tempat asalnya sendiri. Gue penasaran, apakah para penjual nasi Padang ini sempat mengalami tubrukan ideologi dari warga Padang atau setidaknya dari hati mereka sendiri, seperti pada Chef Massimo.

Salah satu perubahan yang gue maksud terdapat pada nasinya. Di tempat asalnya, gulai nangka dan daun ubi sebenarnya disajikan terpisah dan justru tidak dicampur di piring yang sama. Berbeda dengan yang sering kita lihat di beberapa gerai di Medan, termasuk Hidangan Teras Asyifa.

Terlepas dari hal itu, gue pribadi memberi nilai yang istimewa pada sepiring nasinya yang disajikan bersamaan dengan daun ubi, timun, gulai nangka, sayur tauco (kalau tidak salah), kerupuk kentang yang tipis dan manis dan campuran kuah-kuah lainnya.

Tentu saja masih banyak dan beragam pilihan lauk yang bisa dipilih di tempat ini. Gue sendiri belum mencoba semua menu yang ada di sini. Namun, dari beberapa menu yang gue coba, belum ada yang mengecewakan. TENTU SAJA, gue bakalan kembali ke tempat ini demi seporsi nasi…, ummm, nasi…, nasi Teras Asyifa-nya yang menggoda. Hehe.

Lokasinya super mudah ditemukan. Kamu cukup menemukan satu-satunya masjid di sepanjang Jalan Pukat Banting I atau Jalan Rahayu dan Hidangan Teras Asyifa berada tepat di seberangnya.

Hidangan Teras Asyifa

Jalan Pukat Banting I (seberang Masjid Rahayu)
11.00-22.00 (atau kalau duluan habis)
Nasi + ayam rendang (16ribu), ikan goreng (8ribu)
No Pork
Lokasi: https://goo.gl/maps/fMZYX6TqvSk
Irvan Hartan

Irvan Hartan

Copywriter at makanmana.net and Mana Aktiva. Follow my Instagram @180pounds

Leave a Reply