Sop Kepala Kambing Wajir 74, Lengkap Dengan Otak, Mata dan Lidah!!!

Kalau daging, babat, iga, tulang ataupun lidah kambing sih udah wajar ditemukan pada sop kambing. Tapi bagaimana kalau kaki? Atau justru SOP KEPALA KAMBING?

Kali ini gue ngajakkin Leo buat cobain sop kambing, without him knowing kalau ini bakalan jadi bizarre culinary hunt.

Lokasi yang dipilih merupakan lokasi yang sudah legendaris.

Meskipun yang dicobain cukup unik dan aneh, tapi lokasinya nggak boleh sembarangan. Wajib yang udah banyak direkomendasi. Biar rasanya terjamin.

Sop Kambing Wajir 74. Disebut begitu karena berada di Jalan Wajir dan sudah dibuka sejak tahun 1974.

Bahkan kalimat pertama yang diucapkan pemilik Sop Kambing Wajir 74 ini kepada gue adalah “Sop Kambing ini sudah legendaris“.

Pak Hj. Darlis (Owner)

Sebelumnya, Sop Kambing Wajir sudah sempat pindah lokasi sebanyak 3 kali sebelum akhirnya menetap di lokasi yang terakhir ini.

Banyak pejabat-pejabat yang sudah sering singgah untuk menikmati semangkuk sup hangat aromatic dengan daging kambing lembut. Presiden Indonesia yang terdahulu pun pernah singgah di outlet ini.

Wajar saja, Sop Kambing Wajir 74 ini termasuk salah satu dari 3 outlet Sop Kambing yang paling pertama dibuka di Medan yang masih bertahan.

Ada Sop Kambing Kumango yang sudah pernah kami ulas di Youtube Channel Makanmana dan satunya lagi berada di Jalan Tapanuli.

Kepala Kambing, sebelum dibelah

Instead of dagingnya yang sudah “mainstream”, kami memesan seporsi sup kaki kambing dan seporsi sup kepala kambing biar anti-mainstream.

Kaki Kambing

Surprisingly, kaki kambingnya nggak alot. Sekilas sih mirip dengan sensasi menikmati kikil. Kenyal-kenyal gimanaaa gitu, meski tidak selembut menikmati ceker ayam.

Nah, kepalanya nih yang bisa dieksplorasi dari berbagai sudut.

Kita mulai dari yang paling bizarre dulu, otak kambing. Anyway, tengkorak dan tulang uda dibelah terlebih dahulu sebelum disajikan ya.

Ketika dibelah dengan sendok, otak masih berwarna putih dan memiliki corak khas bentuk otak.

Secara psikologis, tampilannya akan terasa sedikit menggelikan. Namun, kalau gue dan Leo nggak tau itu otak, maka lain ceritanya. Soalnya bagian otak yang gooey, lembek dan langsung lumer di mulut ini sebenarnya cukup cocok di lidah.

Lidah kambing sih terasa lembut seperti lidah pada umumnya. Ya namanya juga lidah. So, let’s skip it and move on ke mata kambing yang kata Hardy rasanya cukup enak.

Kalau gue bilang sih mirip dengan mata ikan. Ada bagian yang lembut berair dan memang rasanya enak. Bener-bener mirip dengan menikmati mata ikan.

The best part is its cheek. Pipinya penuh dengan daging yang super lembut. Lebih lembut dari pada daging pada bagian lainnya.

Kalau menurut gue, gue puas dengan seporsi kepala kambing ini. Despite rasa geli gue yang mulai muncul pada suapan kedua otak kambingnya.

Selain dari menu sop, ada berbagai menu lainnya yang bisa dipesan.

Kari Kambing, Sop Buntut Sapi, dan Nasi Goreng menjadi salah satunya.

Nasi Goreng di sini dilengkapi dengan sebutir telur dan dua potong daging kari kambing.

Very aromatic, namun gue bukan tipe manusia yang suka nasi goreng yang cenderung basah. I dunno, entah nasinya yang kebanyakan air atau memang bumbu masaknya sebasah itu.

Tanpa menggunakan sambal/cabai pun nasinya sudah terasa sedikit pedas. I think dicoba dulu tanpa sambal sebelum langsung dicampurkan dari awal.

Daging kari kambingnya pun sedikit alot dibanding dengan kari kambing dari tempat lain.

Buat yang cari kenyang, Nasi Goreng Kambing ini cucok lah.

Kalau nggak salah, ada yang pernah merekomendasikan untuk mencoba Sop Buntut Goreng. Namun, keterbatasan waktu dan ruang perut menjadi hambatan untuk mencoba. Keep it for the next visit.

FYI, berjarak tidak jauh dari pick up Sop Kambing Wajir 74 ini terdapat outlet yang dibuka oleh adik dari Pak Hj Darlis. Menurut Pak Hj sih resep dan bumbunya sama, tapi kita bandingkan lagi di lain kesempatan.

Nonton video selengkapnya di bawah ini:

Sop Kambing Wajir 74

Jalan Wajir No.14
18.00-23.59
Halal
Lokasi: https://goo.gl/maps/9dGGugjL9H4J9uTC9