Makan Kepiting Mentah!? Ini dia lanjutan Trip Kulineran di Korea Selatan Trip (Part II)

Setelah menikmati Gurita hidup di Ppeoltteok Nakji pada artikel Part I kemarin (baca di sini), Bobby dan tim kembali mencoba kepiting mentah pada Part II perjalanan di Korea.

Artikel Part II ini memuat perjalanan tim Makanmana selama hari ke-3 dan ke-4 di Korea Selatan.

For your information, #MakjangKorea ini menggunakan service dari Angkasa Tour & Travel (Korea Jeju Busan Package).

Kalau ingin menjelajahi Negeri Ginseng ini sendirian sebenarnya bisa-bisa saja. Tapi kalau dipikirkan berbagai kerempongan mencari lokasi, research transport, research harga ini itu, bingung dengan rekomendasi makanan, dan nggak ada guide serta translator tambahan, lebih mudah kalau menggunakan paket tour.

Therefore, tim Makanmana menggunakan service-nya Angkasa Tour & Travel biar mudah.


Trip hari ke 3 dimulai dari Busan City, berkunjung ke Haedong Yonggungsa, memacu adrenalin di Oryukdo Skywalk dan menjelajahi isi Gukje Market.

Day 3—Busan City

Haedong Yonggungsa Temple (해동용궁사)

Haedong Yonggungsa ini memiliki umur lebih dari setengah MILLENNIUM, atau lebih dari 600 tahun. Meski sempat terbakar sekitar 100 tahun yang lalu saat perang melawan Jepang, tempat ini kembali direnovasi dan di-revive.

Haedong Yonggungsa memiliki arti Kuil Istana Naga Laut Timur.

Konon, ada seorang pendeta Buddhist yang bermimpi kalau ada Dewa Naga yang turun dari langit dan muncul di hadapannya. Dewa Naga berpesan untuk mendirikan sebuah kuil di area Gunung Bongrae dan mengatakan kalau para warga berdoa di sana, maka mereka akan diberikan kebahagiaan lagi tanpa kesusahan.

Diceritakan, saat itu memang sedang terjadi kekacauan yang amat besar dan para warga pun marah kepada Dewa serta menolak Buddhisme.

Pendeta Buddhist ini pun menelusuri daerah yang sekarang dibangun menjadi Haedong Yonggungsa. Dari lokasinya yang berada di antara gunung dan laut, pendeta Buddhist langsung menyadari kalau tempat ini yang dimaksud oleh Dewa Naga.

Trivia: di kuil ini terdapat patung anak laki-laki yang dipercaya kalau seseorang memegang hidungnya akan mendapatkan anak laki-laki kelak.

Yang ini nih patungnya

Lalu terdapat juga kolam air yang jika berhasil melemparkan koin masuk ke dalamnya, impian orang tersebut bisa menjadi kenyataan.

Di sepanjang jalan menuju dan keluar dari Haedong Yonggungsa, terdapat banyak cemilan khas Busan. Salah satunya adalah Fish Cake (Eomuk) yang sudah sangat populer di semua kalangan.

Eomuk

Oryukdo Skywalk (오륙도 스카이워크)

Oryukdo berasal dari kata O (오) yang berarti lima, Ryuk (륙) yang berarti enam, dan Do (도) yang berarti pulau.

Disebut begitu, karena terdapat 5-6 pulau yang akan terlihat dari atas skywalk yang dibangun.

Pertanyaannya: “Kenapa angka pulau-pulau ini berubah? Apakah pulaunya bisa menghilang?”

Posisi pulau-pulau tersebut letaknya sejajar dengan arah pandang skywalk. Pastinya akan ada pulau yang terhalang oleh pulau lain. Jika dari sebelah Timur, akan terlihat 6 buah pulau dan 5 pulau dari sebelah Barat.

Faktanya, pulau-pulau ini awalnya merupakan satu kesatuan peninsula (tanjung). Karena pengaruh angin dan hempasan ombak laut yang terus menerus selama ratusan tahun, maka pulau ini pun tergerus dan terbentuk 6 gugus pulau yang terpisah dan sejajar.

Pulau-pulau ini pun kini menjadi habitat burung camar dan walet. Kalau beruntung, di musim tertentu akan terlihat adanya burung elang dan anjing laut yang “berwisata” ke pulau ini.

Jayonbyolgok/Korean Buffet Food (자연별곡)

Masih di Busan, kami singgah di Jayonbyolgok yang terdapat di dalam NC Department Store untuk makan siang.

Hidangan yang disajikan di sini pun beragam. Menunya berupa Korean Cuisine Buffet yang terdiri dari JapChae, Tteokpokki, Assorted Blood Sausage, Cold Noodle, Kimchi Fried Rice, Soy Marinated Crab, JjajangMyeon, dll.

But, menu yang paling disarankan untuk dicoba adalah Cold Noodle (NaengMyeon) karena masih jarang banget ditemukan di Medan dan Soy Marinated Crab yang berupa kepiting mentah dengan kecap.

Secara psikologis, awalnya akan terkesan aneh, but it’s not ketika kepiting mentahnya dicobain. A must to try!

Gukje Market (국제시장) dan Jagalchi Market (자갈치시장)

Lokasi Gukje Market sebenarnya berseberangan saja dengan Jagalchi Market. The fact is, Jagalchi Market adalah pasar ikan terbesar di Busan. Banyak ikan-ikan segar di sini yang bisa dipilih dan langsung dimasak di rumah makan yang terletak di lantai duanya.

Berkebalikan dengan Jagalchi yang merupakan wet market, Gukje Market justru lebih banyak penjual aksesoris, kosmetik, produk branded, dan makanan. Gukje Market lebih umum dan awam dikunjungi warga sekitar dan turis.

Gukje Market dibuka dari jam 10.00-22.00 KST setiap harinya. “Say no to libur” mungkin bisa jadi mottonya. Haha!

Antrian di salah satu stall waffle pun memancing kami untuk singgah. Harganya pun masih tergolong aman, 1500 KRW (kira-kira IDR17.000) dengan kurs akhir tahun 2019.

Mumpung peserta lain yang ikut tour berbelanja, kami singgah dulu di Drop Top buat ngopi. Yah, payah ini badan asik minta kafein mulu.

Day 3—Mungyeong

Sore hari pada hari yang sama, kami berpindah kota ke Mungyeong untuk melanjutkan perjalanan ke Seoul. Perjalanan ke melalui darat dari Busan dan melewati Mungyeong memakan waktu 6 jam lebih. Dan perjalanan dari Busan ke Mungyeong itu sendiri memerlukan waktu 3 jam.

Selain jalur darat, transportasi dari Busan ke Seoul atau Seoul ke Busan dapat menggunakan pesawat dengan waktu tempuh 55 menit atau kereta cepat KTX yang membutuhkan waktu 3 jam.

Mungyeong yang akan kami singgahi sebentar lagi, memiliki sejarah sebagai “gerbang” untuk masuk ke ibu kota Seoul pada masa kerajaan dulu.

Mungyeong sebenarnya hanya merupakan kota persinggahan. Namun kami rasa sebutan itu tidaklah cocok, mengingat begitu banyaknya atraksi di kota ini.

Baekdusan (백두산)

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami akan singgah di Baekdusan dulu untuk menikmati set menu homemade ala Korea yaitu Nasi Bungkus Korea atau lebih tepatnya Ssambap.

Bukan, bukan. Ini bukan nasi yang dibungkus dengan kertas dan daun pisang seperti nasi padang umumnya. Nasi dibungkus dalam berbagai jenis sayur yang disediakan dan biasanya berukuran 1 suap.

Ssambap ditemani oleh beberapa side menu seperti Doenjang Jjigae, sup tahu dengan campuran kacang kedelai, tahu dan labu kuning.

Kami cukup merogoh kocek senilai 10.000KRW (~IDR115.000, Q4 2019) untuk set menu yang bikin perut puas dan senyum merekah malam itu.

We head straight to STX Resort Mungyeong yang sebenarnya memiliki view yang sangattt indah untuk bermalam. Sayangnya, resort ini hanya persinggahan untuk istirahat semalam saja.

Day 4—Mungyeong

STX Resort Mungyeong, tempat di mana kami menginap semalam dikelilingi gunung dan hutan. Memang sih 60% dataran Korea dipenuhi oleh pegunungan. Udara pagi di resort sini cukup dingin, apalagi saat sudah memasuki musim gugur.

Not to mention kalau pemandangannya bener-bener indah. Again, we have a very little time to enjoy this karena sesaat lagi akan segera berangkat ke destinasi selanjutnya.

Petite France (쁘띠프랑스)

Petite France dikenal sebagai Miniatur Perancis oleh masyarakat lokal maupun turis. Banyaknya rumah-rumah yang dibangun mirip dengan model rumah asal Perancis, menjadi asal muasal sebutannya.

Rumah-rumah di sini memiliki warna yang cukup mencolok sebenarnya. Somehow, warna-warna mencolok ini terlihat bagus secara keseluruhan. Petite France pun pernah dijadikan tempat shooting film ‘My Love From The Star’.

주원산유황오리 (TBC)

Not sure dengan nama restorannya, tapi tulisan inilah yang terpampang di depan tokonya.

Selesai eksplorasi Petite France, kami singgah untuk mengisi perut dulu di restoran Dak Galbi terdekat.

Untuk yang masih belum tahu, Dak Galbi berasal dari kata ‘Dak’ yang berarti ayam dan ‘Galbi’ yang berarti tulang iga. Tetapi sebenarnya, menu ini hanya berupa daging ayam yang dibakar.

Tips dari guide lokal: bakar juga kimchinya agar bertambah manis dan asamnya berkurang.

Nami Island (남이섬)

Harga penyeberangan ke Nami Island menggunakan speedboat adalah sekitar 12.000KRW (~IDR138.000, Q4 2019).

Selain pemandangan alamnya yang indah, Nami Island menyajikan banyak coffee shop dan beberapa spots wisata yang wajib dikunjungi. Untuk menjelajahinya, bisa menggunakan sepeda yang disewakan.

Pengunjung lokal yang datang ke Namin Island pun nggak kalah banyak. Salah satu spot yang cukup digandrungi adalah Makan Jenderal Nami dan spot yang digunakan untuk shooting KDrama Winter Sonata (lengkap dengan properti berupa sepeda).

Streetfood dengan nama Nami Sausages pun kami cobain. Sumpah, penasaran karena antriannya cukup panjang.

Turned out, ini adalah sosis babi bakar yang diberi mustard dan saus BBQ. A recommended one, though, untuk harga 3.000KRW (~IDR34.000 , Q4 2019).

Trivia: Nami Island diberi nama sesuai dengan Jenderal zaman Joseon, Nami yang meninggal dan dimakamkan di pulau ini.

Day 4—Seoul City

Tosokchon (토속촌 삼계탕)

Dua lokasi tersebut sudah memakan waktu seharian untuk mengeksplorasinya.

Tibalah malam hari dan kami singgah di Tosokchon untuk mencicipi Samgyetang asli Korea. Samgyetang adalah ayam yang dimasak dengan ginseng, kurma merah, biji labu, wijen dengan nasi yang diisikan ke dalam perut ayam.

Menu makanan ini merupakan salah satu makanan wajib warga lokal Korea, yang dibanderol dengan harga 24.000KRW (~IDR277.000, Q4 2019).

But why this Tosokchon Restaurant, you asked. Well, restoran ini sudah dibuka sejak tahun 1983 dan cukup legendaris.

Apalagi restoran ini TIDAK ADA CABANGNYA dan terletak berdekatan dengan Blue House, Rumah Kepresidenan Korea serta Gyeongbokgung Palace.


Ketibaan kami di Seoul dan menikmati makan malam dengan soup yang hearty menjadi penutup perjalanan hari ke-4 kami di Korea. Sekaligus menjadi penutup artikel bagian 2 perjalanan tim Makanmana di Korea.

Untuk artikel bagian pertama masih bisa dibaca dengan klik link ini.

Sampai jumpa di Part 3 artikel #MakjangKorea bersama Angkasa Tour & Travel!

Nonton video perjalanan Day 3 dan Day 4 kami di sini:

Korea Jeju Busan Trip bersama @angkasatour

Jalan Wahidin No. 65A (Simp.Sampali)
(+6261) – 888 19 888 (Hotline)
info@angkasatour.id