Private Dining with Sandy di Sands Dining – Cemara Asri

Konsep Fine Dining di Medan mungkin tidak se-developed kota-kota besar lainnya di Indonesia, terutama Jakarta, tetapi sejak tahun 2020, eksistensinya makin luas, salah satunya Sand’s Dining yang baru hadir di komplek Cemara Asri baru-baru ini.

Sedikit cerita, tim kami sempat kesasar sekitar jajaran ruko Boulevard, sampe akhirnya Leo memutuskan buat langsung hubungi ownernya. And so, here we are!

Dari Luar Tampak Cukup Sederhana

sands dining kuliner medan

Pintunya yang tertutup bukan menandakan kalo tempat ini tutup yah, but to make it as private as possible.

Dari reception table, kami berjalan masuk menuju maze yang beralaskan red carpet, dipandu Front of House, salah satunya Angelia Marigold. Sepanjang maze ini, kalian bakal melihat dinding yang berisi foto-foto perjalanan karir Chef Sandy Wijaya selama di Aussie, mulai dari The Local Press (2017), Cyren Seafood Bar & Restaurant (2018), hingga KOI Dining (2019) bersama Chef Arnold dan Reynold Poernomo.

Seampainya di dalam… Gak tahan rasanya kalo gak keluarkan kamera, soalnya di lantai satu ini banyak spot foto yang menarik, diantaranya sofa yang terkesan mevvah abis dan ornamen sepeda motor (baca: Vespa) yang berdiri tegap seakan siap difoto.

Dining Area sekaligus Kitchen Ada di Lt. 2

Tata ruangannya memang terlihat cukup simpel, tapi perpaduan warna dan table setting-nya memberikan kesan mewah dan ekslusif.

Chef Dibalik Masterpiece Ini

Seperti yang mungkin udah kalian tebak, nama Sand’s Dining berasal dari nama Chef Sandy Wijaya, yang sekaligus merangkap sebagai Savoury Chef.

Selama di Aussie, Chef Sandy menimba ilmu di Sydney dengan jurusan Business Management. Nah, di waktu senggangnya, Chef Sandy bekerja di area hospitality. Ternyata, sebelum bekerja di ketiga restoran tadi, Chef Sandy sempat menjabat sebagai Kitchen Hand di di restoran Malaysia Mamak Restaurant.

sands dining kuliner medan

Tapi, pada akhirnya Chef Sandy memutuskan buat pulang ke Medan dan merintis Sand’s Dining, dengan tujuan untuk memberikan sajian makanan ala luar negeri alias Fine Dining di dalam negeri. Maksudnya, warga Medan bisa merasakan suasana, makanan, dan service khas luar negeri tanpa harus angkat kaki dari Medan. Alasan kedua Chef adalah untuk mengembangkan kuliner di kota Medan yang dirasa masih jauh tertinggal dari Jakarta dan Surabaya, padahal daya beli warga Medan sangat luar biasa.

Instead of Western Food, hidangan di sini berupa modern Australia Cuisine with South East Asian infusion yang telah disesuaikan ke lidah orang Medan. Nah, Chef Sandy sendiri lebih mengusung konsep freestyle di dalam tiap hidangan yang disajikan.

Sebenarnya, selain Chef Sandy sebagai Savoury Chef, ada Chef Florencia Winargoh yang bertugas sebagai Pastry Chef pas MaMa visit. Update: Chef Flo is no longer there.

Moving On To The Food!

Ada total 8 course yang disajikan ke tim MaMa malam itu, so brace yourselves for the ultimate foodgasm! 😉

Appetizer: Stuffed Chicken Wings with Grilled Mushroom, Truffle Oil and Japanese Rice + Housemade Smoked Salmon Croquette with Salty Cream

“Ooughhh, aroma Truffle-nya strong banget!”, kira-kira itulah yang ada di pikiran gue pas truffle oil dituang ke atas Stuffed Chicken Wings nya.

Tapi menurut gue, yang bikin hidangan ini unik justru ada di isian Japanese rice yang padat, dengan aroma khas Truffle Oil yang lebih mendominasi seluruh citarasanya. Salmon Croquette nya sendiri bertekstur lembut pake banget, dengan sedikit tekstur garing di bagian luar.

Entree #1: Chawanmushi with Crab Meat, 3 Kind of Tobiko and Ponzu Dressing

Pas Chawanmushi kami diberikan sentuhan terakhir sebelum disajikan, mata gue langsung tertuju pada Tobiko dengan 3 warna ini. Wajar aja, warna hitam (squid ink), warna jingga (calamansi), dan warna hijau (wasabi) dari Tobikonya terlihat cukup kontras dengan warna egg custard dan daging kepiting, making it so eye-catchy.

Surprisingly enough, Tobiko yang hijau gak terasa pedas sama sekali, malahan tertutup sama citarasa khas kepiting yang mendominasi seluruh hidangan ini, ditambah sedikit sensasi pedas yang pastinya bukan berasal dari tobiko wasabi. The overall dish tasted so seafoody~

Entree #2: Panfried Japanese Hokkaido Scallops with Shimeji Mushrooms, Green Oils Emulsion and Umami Sauce

Pan-seared scallop yang kenyal dengan aroma khas Wok Hei (burnt flavor) yang kuat langsung teridentifikasi oleh otak gue ketika satu butir scallop ini masuk ke mulut. Plus, citarasa umami yang berasal dari creamy umami sauce alias dashi ini bikin rasanya makin sempurna!

Fix, ini sajian favorit gue! At least sejauh ini…

Main Course #1: Lobster Pasta with Fried Kale and Spicy Seafood Base

Di dalam dapur, pasta dan lobster dimasak terpisah. Pasta berjenis Spaghetti di-simmer di dalam Spicy Seafood Base, sedangkan daging lobster di-broil sebelum dipanggang.

Pasta yang creamy, agak manis, dan cenderung light terasa pas banget ketika dinikmati bareng potongan seared lobster yang kenyal, garing dan punya burnt aroma. Saran gue, kalian nikmati pastanya bareng Spicy Sauce nya for that light spicy kick.

Untuk Main Course yang kedua ini, kalian boleh pilih antara 3 jenis protein (chicken, salmon, atau beef), tapi malam itu kami dikasih kesempatan buat cobain ketiganya.

Main Course #2 Option 1: Hibachi Grilled Wagyu Picanha MB6-9+ with Pumpkin Puree, Pickled Onion, King Brown Mushrooms and 48-hours Red Wine Jus Reduction

Daging Wagyu di pan-seared hingga medium-rare, kemudian di-grill di atas arang Binchotan. Potongan daging Wagyunya sendiri terasa smoky, dengan citarasa blackpepper yang cukup kuat.

FYI, arang Binchotan terbuat dari bambu yang melalui pembakaran lama hingga suhu +/- 1200 derajat Celcius. Perbedaan lainnya dari arang biasa adalah asapnya yang tidak berbau dan tidak meninggalkan residu hitam setelah habis terbakar.

Oh ya, saus yang berwarna kecoklatan itu bukan BBQ sauce, melainkan Red Wine Jus Reduction. Terus, saus yang berwarna kuning itu pumpkin puree. Rasanya sih menurut gue rada mirip Cheddar Cheese… 🤔

But anyway, for the best flavor coba kalian nikmati Wagyu Beefnya dengan kedua sausnya sekaligus.

Main Course #2 Option 2: Chimichurri Chicken with Pumpkin Puree, Pickled Onion, King Brown Mushrooms and Hollandaise Sauce

Gak seperti beef yang tadi, fillet ayamnya hanya di-pan-seared sebelum disajikan. Karena dimasak dengan Chimichurri (saus tradisional asal Argentina yang berwarna hijau), rasa asam segar dengan sensasi pedas serta aroma khas sayur mentah yang tajam langsung terasa pas gue masukin satu potong ayamnya ke dalam mulut. Tekstur ayamnya sendiri sedikit agak kering, kalo menurut gue pribadi.

Untuk sausnya, aturannya masih sama: cobain kedua sausnya sekaligus!

Main Course #2 Option 3: Pan Seared Salmon with Pumpkin Puree, Pickled Onion, King Brown Mushrooms and Hollandaise Sauce

Dari segi presentasi, mungkin ini adalah alternatif dari Chimichurri Chicken yang tadi. Tapi, kalo gue disuruh pilih, gue personally lebih pilih yang ini.

Potongan fillet salmon di-broil terlebih dahulu, kemudian di pan-seared dan di-broil lagi sebelum disajikan, menghasilkan daging salmon tebal yang juicy, dengan kulit yang sedikit crispy.

Dessert #1: Peanut Butter Parfait with Caramel Sauce, Roasted Peanut, Dark Chocolate Mousse and Tuile

Dessert berbasis kacang ini punya overall taste yang manis. Meskipun pas plating peanut mousse-nya terkesan padat dan keras, tapi pas gue sendokin ke mulut, mousse nya justru terasa smooth banget dengan rasa kacang yang kuat! (apa mungkin gara-gara lampu di atasnya yang panas, mousse-nya sedikit meleleh pas gue selesai foto?)

Eniwei, biar overall flavornya paripurna, gue sarankan kalian nikmati mousse-nya bareng caramel sauce, chocolate tuile dan chocolate dots nya. Singkatnya: campurkan aja semuanya!

Dessert #2: Strawberry and Mango Ice Cream

Kalo yang tadi sweet-based, yang ini justru lebih ke sour-based.

Es krim homemade dibentuk seperti bola lalu diletakkan di atas sponge cake bundar berwarna kuning. Di tengah-tengahnya ada mango sorbet (juga homemade) dengan permen berbentuk daun di atasnya.

Karena kedua bola es krim ini punya tampilan yang sama persis, gue gak bisa bedain mana yang berisi stroberi dan mangga, so there’s only one way to find out. 😜

Eniwei, saran dari Chef, nikmati es krimnya bareng saus berwarna merah dan daun mint untuk sensasi refreshing.

“Harganya di Kisaran Berapa, Ma?”

  • WhatsApp-Image-2021-02-10-at-11.03.40-AM-1
  • WhatsApp-Image-2021-02-10-at-11.03.42-AM-2
  • WhatsApp-Image-2021-02-10-at-11.03.42-AM-1-1

Sebenarnya menu-menunya sama aja, yang membedakan harganya cuman jenis protein yang kalian pilih sebagai menu Main Course kedua: Mulai dari Chimichurri Chicken (680rb), Pan-Seared Salmon (780rb), hingga Hibachi Wagyu Picanha MB6-9+ (880rb).

What do you think?

Perfect Way to End the Day!

Meskipun pada awalnya gue pikir ambience-nya bakal terasa kaku, gue justru gak terlalu ngerasain itu di sini. Percakapan antara kami dengan Chef serta Front of House yang cukup santai bikin overall dining experience kami terasa nyaman.

Anyway, thank you so much for hosting us that night! We’ve had a pleasure fine dining experience!

Sand’s Dining by Chef Sandy Wijaya (IG: @sands.dining)

Jl. Cemara Asri Boulevard Raya No.84
Jam Buka: 17.00-22.00
0811-6385-353
No Pork No Lard

Share this article
Default image
Cindy Ardisa
Copywriter & Content Editor at Makanmana
Articles: 45

Leave a Reply