Kwetiaw Beras Pangkalan Brandan, Jalan Rahayu

kwetiaw goreng beras brandan medan

Ingatkah kalian Bebek H. Slamet Kartosuro yang direkomendasikan Bocah Gendut? Nah, kali ini rekomendasinya ialah sebuah rumah makan sederhana yang menyajikan Kwetiaw goreng yang konon sudah lama berjualan di kota kecil Pangkalan Brandan (sejak kaum Tionghoa bermigrasi dari Tiongkok) sebelum akhirnya pindah ke kota Medan.

alamat kwetiaw berasa brandan medan

Terletak di Jalan Pukat Banting 1 atau kerap disebut Jalan Rahayu, rumah makan ini hanya terletak beberapa rumah dari Sengpon Seafood. Agar tidak tersesat, apabila anda bergerak dari Jalan Wahidin menuju jalan Aksara, lurus saja sampai lampu merah simpang empat. Lurus lagi sampai anda menemukan simpang Jalan Mandala, kemudian belok kiri hingga anda menemukan Indomaret. Di seberang Indomaret terdapat sebuah jalan kecil dan palang kecil bertuliskan ‘CHI KUNG’.

kwetiaw berasa brandan rahayu medan

Ngomongin kwetiaw di Medan sih banyak versinya. Rata-rata kwetiaw goreng yang umum dijumpai menggunakan tepung kanji sebagai bahan dasarnya. Perbedaannya dengan kwetiaw beras tentu saja menyolok, dari segi harga, tekstur, teknik masak, dan tentunya…citarasa. Acek yang sudah separuh baya ini masih tetap konsisten melanjutkan legacy dari pendahulunya yang berasal dari Tiongkok. Setaon yang lalu keluarga ini pindah ke Medan dengan alasan anak cucu mereka sudah banyak yang menetap di kota Medan.

kwetiaw beras

Bisnis yang dijalankan saat ini boleh dianggap sebagai bisnis ‘killing time’. Pasangan ini merasa jenuh di usia yang senja sehingga akhirnya memutuskan untuk berjualan kembali di depan rumah mereka, satu ruko yang sederhana dengan beberapa meja dan kursi ala kadarnya. Porsi kwetiaw yang disediakan juga tidak banyak, mengingat keterbatasan umur dan juga usia kwetiaw beras yang tidak lama. “Paling lama 1 hari, setelah itu keras dan tidak enak dimakan lagi…terpaksa dibuang”.

kwetiaw beras goreng

Pembuatan kwetiaw beras ini dimulai sekitar waktu tengah hari. Setelah bahan-bahan dipersiapkan, gerai ini mulai dibuka pukul 16.30 sore. Sederhana sekali kelihatannya, wajan diminyaki lalu sayur dan daging ditumis kemudian kwetiaw dimasukkan. “Pengaturan suhu api dan jumlah air sangat penting, karena kwetiaw beras cenderung lebih rewel…kebanyakan air jadi lembek, kurang air jadi keras dan gosong”.

Terus terang, sudah lama saya tidak mencicipi kwetiaw goreng yang remarkable, terlepas dari beberapa gerai yang sudah terkenal di Medan. Dimana lagi anda dapat menikmati sepiring kwetiaw beras goreng yang lezat dengan porsi yang generous dan hanya cukup membayar Rp 18.000? Highly Recommended.

26 Replies to “Kwetiaw Beras Pangkalan Brandan, Jalan Rahayu”

  1. suggestion: maybe you should put sign/tanda for recommended places in your blog, supaya we know which one you would recommend. just my two cents aja.

    Like

    1. Hahaha…susah juga yah nanti jadi pilih kasih, lagian rekomendasi itu kan personal. Kasian donk nanti yang ga dapat rekomendasi org jadi malas kesana :p

      Like

  2. Ko leo. Iya benar daging n udang semua naek mau gak mau pun naek juga deh.. klo goreng telur aja tetap harganya…

    Like

  3. Gara-gara sering pantau kuliner di “Makanmana”, maka pd tgl 30 Juli kemarin, akhirnya saya beli juga kwetiau beras goreng seafood ini. Asli emang enak, asli recommended. Cuman harganya Rp20ribu bukan Rp18ribu seperti yang tertera di atas, padahal reviewnya di-post tgl 18 Juli 2014. Dalam 12 hari langsung naik harga? Just curious.. =DƗƗɐ Ơ̴̴̴̴͡ټơ̴̴̴̴͡ ƗƗɐ=D. Namun, emang saya akui untuk harga seporsi kwetiau beras goreng seafood, itu udah termasuk murah and terjangkau sich.

    Like

    1. Memang sih waktu harga 18rb ownernya juga udah mengeluh bahwa cost semua tinggi dan semakin naik. Mungkin bisa saja karena faktor mendekati lebaran jadi bahan pokok semua ikut naik. Ironisnya kalo kuliner ini ada naik harga tapi ga pernah turun harga lagi hehehe…

      Like

    2. dulu waktu masih kecil, masih tinggal di brandan, ini kwetiau kesukaan ku, sampe beberapa taon lalu kalo ada pulkam ke brandan, masih cari ini kwetiau, yg letaknya di gang kecil sebelah mesjid,

      rumahku pas depan mesjid… heheh,… so jalan kaki aja kalo ke kedai kwetiau ini

      Like

  4. besok coba dulu rekomendasi bocah gendut ah. mumpung sekitaran rumah lagi cuti semua . susah bener cari makan .

    Like

  5. wah….ada cerita behind the scene nya nih…menarik utk diikuti 🙂 ah kong & ah ma jadi chut mia ntar byk yg dine in disana pd wawancara mereka 🙂

    Like

    1. Asal jangan ada yang kesana jualan stiker “legendaris” aja, bayar pake kartu nama, trus ngakunya kalau karena jasa dia gerai aceknya jd terkenal. Then that will be bad.

      Like

      1. akun instagram @kulinermedan

        pembuat kartu sakti, bebas makan ??? hheeheheh

        Like

  6. Yup, mengenai cerita yang satu ini juga ada dibahas. Memang benar, ketika jamannya pak Harto, rata-rata padi tuh tinggi-tinggi, kuning lebat, tetap wangi ketika dipanen dan ketika dimasak. tidak seperti sekarang ini, beras bisa wangi karena dicampur dengan benih/pewangi, walau tidak semua kilang menggunakan benih tersebut. Mengenai beras apa yang digunakan belum sempat saya tanyakan. Mungkin next time baru ngobrol lagi dengan mereka.

    Like

  7. waktu beberapa teman dan MaMa mempostkan ke IG, tergiur juga untuk mencobanya.
    Akan tetapi versi kwetiau beras ini terasa agak kaku, dikit keras dan tebal.
    Saya jadi teringat dengan Kwetiau Ong yang di selat panjang dulu dibawa bokap ketika masih remaja, dan acek ini sudah meninggal beberapa tahun lalu. Kwetiau beras yang dibuatnya benar-benar lembut dan enak.

    Acek, aie dan anak perempuan kwetiau beras Brandan ini sangat ramah dan mau berbagi cerita. Bila kwetiau berasnya tersisa di malam hari maka akan dijual kembali keesokan harinya. Tapi bila kehabisan, maka paginya cuman menyediakan bihun dan mie saja.

    Cucu laki-lakinya sempat bertanya kepada ibunya yang mana sih yang namanya Bocah Gendut tuh. Mamanya menjawab tak tahu, yang diketahuinya hanya seorang wanita pernah memfoto kwetiau berasnya sebelum makan. Dan katanya lagi, berkat MaMa datang dan mereview, kwetiau berasnya dibuat lebih banyak lagi dan selalu habis. Hahaha…

    Like

    1. Nah, soal kwetiaw yang beras yang agak keras, si Ayee pernah cerita juga bahwa beras sekarang kualitasnya tidak sebagus dulu lagi. Dari zaman orang tua Acek&Ayee mereka masih berjualan, beras hanya panen sekali setahun, sedangkan di zaman ini beras bisa panen hingga 3x dalam setahun. Secara tidak langsung ini juga mempengaruhi kualitas beras yang mereka racik.

      Like

      1. semakin blur ah identitas si Bocah Gendut. padahal ku kira ini dulu initialnya J***Y
        pemilik cafe di pusat kota : Shutups:

        mana ni foto nya. ahaha. minimal PM lah hahaha

        Like

  8. Wuaahh..
    Gk nyangka direview jg..
    Salut buat Kru MaMa..
    Ni kwetiaunya emg enak..
    Trus harga jg murah..
    Porsi mantap..
    Plus bonus acek sama ai yg jual ramah bener..
    Very recommended ni..

    Like

Berikan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s