Roland’s German Restaurant

rolands address

rolands medan german resto

After years, we’re back! Ini review kedua kami setelah review terakhir 2 tahun yang lalu, jadi kami akan update sedikit what’s going on di Roland’s German restaurant, restoran Jerman kebanggaan Kota Medan ini.

restoran jerman medan

Rolands resto jerman

The Beergarten is complete! Artinya buat kamu yang suka nge-bir, Roland’s menawarkan suasana outdoor dengan taman mini, bar kecil, dan TV untuk menemani malam santai sambil nonton siaran sport favorit. Selain itu, Roland’s juga menyediakan areal dining outdoor, cocok buat family atau gathering.

resto jerman di medan

Oh ya… menurut penuturan pengelola, komunitas penggemar beer mulai bermunculan di Medan, jadi jangan segan untuk mampir, be it with friends or make new friends.

Jager a.k.a how to make friends machine—the German way

Jager a.k.a how to make new friends machine—the German way

Roland's german resto

Outdoor or indoor? They’re both comfy anyway

Introducing new menu: Schaschlikspiess

Melirik ke daftar menu, ternyata ada menu baru yang direkomendasikan oleh Mr. Roland’s sendiri selaku founder dan head chef di restoran yang dibukanya pada tahun 2010 ini, yaitu Schaschlikspiess *ati-ati ludahnya…* (dibaca ShaSlik).

Schaschlikspiess adalah potongan daging babi yang sudah dibumbui lalu dihidangkan beserta paprika, bawang bombay dan ham yang ditusuk dengan skewer sebelum dimasak dengan saos berbahan dasar tomat.

Walaupun ternyata menu ini sudah sangat umum di Jerman, Mr. Roland baru bisa menyajikannya sekarang karena persiapan dan proses memasaknya yang rumit. “Baru sekarang kami memiliki peralatan dan staff yang cukup memadai untuk menyajikan Schaschlikspiess ke pengunjung kami” ujar Mr. Roland.

Brezel

Brezel—yang kiri gratis (compliment), yang kanan bayar…

Roland juga menambahkan bahwa semua bahan yang digunakan di restorannya diproses sendiri termasuk ham, sosis dan Brezel (roti khas Jerman) yang dihidangkan sebagai komplimen selagi menunggu makanan kami terhidang.

“No MSG, no artificial coloring, no preservatives, just the best ingredients… ya!” tambah Mr. Roland dengan aksen Jerman yang kental. Pria berbadan lebar ini juga merekomendasikan Currywurst (52rb) dan Chicken Schnitzel (70rb) yang merupakan best seller sebagai menu tambahan sore itu.

Currywurst

Sausages…but with curry, isn’t it Indian?

Sambil menyantap Brezel yang dibuat fresh setiap hari, Mr. Roland mulai bercerita tentang lahirnya Currywurst di Jerman. Sesuai namanya, Currywurst ialah hidangan sosis dengan saos berbasis tomat dengan tambahan bubuk kari.

Hidangan ini dipopulerkan oleh seorang wanita dari Berlin yang menambahkan bubuk kari ke saos sosis di era pasca perang dunia II saat impor negara Jerman mulai dibuka kembali dan imigran dari India mulai berdatangan.

Apapun ceritanya, Currywurst yang dihidangkan terbukti nikmat dan rasa kari-nya tidak overpowering taste asli dari sosis sapi homemade buatan Roland.

Schaschlikspiess

Kembali ke Schaschlikspiess yang sudah terhidang, gigitan pertama langsung terbayang saos berbasis tomat, kemudian tekstur daging yang lembut dan bumbu yang meresap dengan baik, didampingi bawang bombay yang sudah manis karena proses karamelisasi saat dimasak, lembutnya ham dan ditutup dengan garingnya paprika segar.

It’s heaven on earth! Kami hampir ngak rela untuk berbagi makanan ini dengan siapapun. Untungnya porsi yang disajikan lumayan besar jadi cukup untuk kami semua nikmati. You got to order this! Dengan price tag 79rb, it’s worth to pay.

Chicken Schnitzel

Sebelum kekenyangan, kami mulai menuangkan Brown Sauce diatas Chicken Schnitzel yang masih hangat terhidang. Kami juga menyarankan anda sharing fillet daging ayam yang dipotong tipis ini karena porsinya lumayan besar. We really fell in love with the brown sauce.

Kiri:Dapur no pork - Kanan: Dapur non halal

Kiri:Dapur no pork – Kanan: Dapur non halal

2 separate kitchen: non halal and pork free

Sebagai penutup, Mr. Roland menambahkan bahwa restoran ini menjalankan 2 dapur terpisah untuk masakan yang mengandung babi dan yang tidak mengandung babi.

“Jadi tamu kami yang muslim tidak usah khawatir untuk datang bersantap. Dapur pisah, staff pisah, bahkan piring dan peralatan makan terpisah antara yang mengandung babi dan yang tidak…and we’re serious” ucap Mr. Roland dengan bangga.

Expatriates, common scene in this restaurant

Expatriate with a glass of beer—common scene in this restaurant

Still our favorite German Restaurant in Medan

Well, kami pulang dengan puas karena ternyata restoran Jerman favorit kota Medan masih mempertahankan, bahkan menaikkan kualitas makanannya, disamping kreasi menu baru yang dikeluarkan satu persatu untuk memanjakan lidah masyarakat Medan. It’s a little Germany in Medan. Well done Roland’s, Danke!

alamat Roland's setiabudi medan

Roland’s German Restaurant
Jl. Setia Budi, No 262 (Sebelah kompleks ‘TASBI’)
Phone: +62-61-821 4379
Email: info@rolands-restaurants.com

  1. Pernah pas nongki bareng di lain kafe, tante yg tinggal di Tasbih bilang juice di Roland kurang greget. Nah pas liat ini, aku harus coba nih kayaknya. Salad bar ada gak ya di Roland?

    Reply

  2. ini jam bukanya dr jam brapa sampe jam brapa yah? 🙂

    Reply

    1. Dari jam 11 ampe malam

      Reply

  3. Saran buat makanmana utk menyerta kan harga dan rating rasa menurut makanmana 🙂

    Reply

    1. Makasi anakmedan atas saran dan masukannya.. Utk harga kami kadang silap kehilangan bon, dan ga hapal… Rating rasa itu objektif krn penilaian rasa dan lidah masing2 org berbeda.

      Reply

  4. A good place with nice atmosphere and quite friendly waiter/waitress.

    Secara citarasa, cukup baik.
    Namun, saran saja untuk yang akan berkunjung, agar ditanya ke Mba atau Mas-nya apa yang terkandung di dalam menu pilihan kita.
    Bisa saja menurut si A enak, tapu tidak demikian menurut lidah si B.

    Overal, bagus untuk nongkrong, dan sekalian boleh byat ngelatih B. Inggris (ini dengan catatan kalau pe-de untuk ngesamperin bule-bule yang dateng).

    Anyway, ada space khusus untuk yang ingin merasakan suasana romantis…

    Reply

    1. Yep, soal rasa memang agak unik, either you love it or hate it..tapi disini kita coba melihat sisi karakter dari makanan Jerman tersebut, dan menurut saya sudah tidak sepenuhnya authentic lagi untuk menyesuaikan citarasa lidah orang Medan. Analoginya mungkin seperti selling nasi padang in Germany, saya rasa semua bule disana pada komplen karena mencret dan kepedesan kalau citarasanya masi menjaga keaslian seperti disini.

      Reply

Berikan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s