JM Bariani House, Malaysian food

jm-bariani-nasi-bariani-ayam

Ketika pertama kali mendengar nama restoran ini—JM Bariani House, yang langsung terlintas di benak ialah Briyani House. Yep, some sort of Indian restaurant. Tetapi setelah berkunjung, barulah sadar, restoran ini merupakan franchise dari negeri seberang yang menawarkan hidangan khas Malay.

alamat-jm-bariani-medan

Design restoran yang lumayan memikat mata itu memang tidak susah ditemukan. Di jalan Gagak Hitam, 3 ruko digabung dengan design modern dan fasad depan yang dilapis kaca ala design airport Kualanamu ini memberikan kesan eksklusif.

waiting-room-jm-bariani

Masih di areal depan, terdapat sebuah ‘waiting area’ dengan sofa cozy, mungkin buat para tamu yang nunggu jemputan kali.

Kami pun dihampiri seorang waiter dengan senyum dan keramahan. Kebetulan siang itu tidak begitu ramai, kami pilih tempat duduk yang paling mendekati kaca luar.

Biar bisa ngambil foto bagus ceritanya.
Biar bisa ngambil foto bagus ceritanya.

Restoran ini terkesan mahal. Kursi meja dan perabotan yang dipakai kelihatan grand, namun alangkah terkejutnya ketika kami melihat harga daftar menu yang masih selembar kertas laminated itu.  Untuk ukuran sebuah restoran dengan design seperti ini, harganya sangat affordable, tapi entahlah apakah ini strategi soft opening.

ruang-makan-jm-bariani

Makanan yang dihidangkan kebanyakan berupa ala carte. Hidangan utamanya tentunya ialah nasi briyani, kemudian dilengkapi dengan varian kuliner khas Malaysia seperti mie hailam, mie goreng mamak, nasi goreng kampung, serta beberapa menu western.

nasi-bariani-gam-chicken
nasi bariani gam daging (64)

Menu pertama yang berhasil menggugah selera dari penampilannya—Nasi bariani gam daging. Sejatinya jika ini dijual di restoran India, tidak akan anda temukan daging sapi didalam nasi briyani karena sapi merupakan makhluk suci bagi penganut agama Hindu.

nasi-briyani-medan

Ada 2 jenis briyani yang dihidangkan, yang satunya gam dan yang satunya lagi biasa. Saya kurang tau dimana perbedaan mencoloknya, tetapi hasil mengintip bagian dapur, ada perbedaan subtle di pemakaian bahannya.

Nasi bariani ayam merah (40rb)
Nasi bariani ayam merah (40)

Nasi bariani ayam merah, tanpa ‘Gam’. Kebetulan untuk ayam merah ini tidak digabung dalam satu piring karena saosnya banyak. Dan jika diteliti, nasi bariani biasa ini terlihat lebih kuning warnanya.

Personally, kami merasa nasi bariani gam lebih aromatic. Kombinasi dried prune dan kacang mete yang diaduk kedalam nasi itu memberikan tekstur dan rasa yang lebih rich dan flavorful.

mie goreng mamak (27)
mie goreng mamak (27)

Kerinduan kami akan masa kuliah dulu kembali terpuaskan oleh mie goreng mamak. It may look simple, tetapi masakan yang mirip dengan mie goreng ini Aceh ini berbeda dari segi tastenya.

Nasi goreng kampung (40)
Nasi goreng kampung (40)

Namun sayang, nasi goreng kampung yang kami antisipasi ternyata sedikit mengecewakan. Kami tidak menemukan tumisan kangkung dan cabe hijau yang menjadi karakteristik nasgor kampung pada umumnya.

Ikan bilis yang dihidangkan pun berbeda. Di Malaysia, ikan bilis yang disajikan lebih berdaging dan gemuk. Sayangnya substitusi disini tidak sesuai harapan, terlebih lagi pemakaian acar dan timun serta tomat membuatnya lebih terlihat seperti nasgor khas Indonesia. Mana nih sambel belacannya?

Mie Hailam (25)
Mie Hailam (25)

Untunglah seporsi mie hailam yang agak lambat keluar menjadi santapan penutup yang cukup bermakna siang itu. Sekilas, nampaknya seperti mie rebus, tetapi kuahnya lebih encer minus telur. Nonetheless, kaldu kuahnya terasa lezat.

Apalagi kalau minumnya bukan teh tarik?
Apalagi kalau minumnya bukan teh tarik? (20)
Ruang makan lantai 2
Ruang makan lantai 2

Di lantai 2 juga terdapat ruang makan yang sangat spacious, dengan penerangan maksimal dari cahaya luar, membuat ruangan ini terkesan homey dan classy.

Areal belakang lantai 2
Areal belakang lantai 2

Menuju ke bagian belakang lantai 1, ternyata restoran ini mempunyai sebuah mesjid dan dapur sentral. Kami sempat diajak oleh encik Zulkarnain, franchisor yang kebetulan sedang berada di tempat untuk sekilas melihat daerah dapur.

Areal makan lantai 1
Areal makan lantai 1
Mesjid yang sedang tahap penyelesaian
Mesjid yang sedang tahap penyelesaian

Overall kami senang dengan kehadiran JM Bariani House. Tidak banyak emang resto yang menawarkan kuliner khas Mamak Malaysia di Medan. Dulu sempat ada Sri Annapurani yang menyajikan menu serupa, sayangnya sudah tutup.

And if you’re wondering what JM stands for, kami juga masih belum tau hingga saat ini, tapi dari asumsi kami, cocoknya sih Jom Makan!

JM Bariani House Indonesia
Jl. Gagak Hitam No. 88 D-E-F
061-847 7777

14 thoughts on “JM Bariani House, Malaysian food

  1. Perbedaan Gam dan Biryani biasa adalah pada Gam, nasi dimasak bersamaan dengan daging (the raw meat is cooked wih the rice). Sedangkan pada Biryani biasa, nasi dimasak ya nasi saja.

  2. Tempat ok, makanan ok, menu makanan kayak di tpt warung makan, slide foto di layar tv ok, cuman gak tau nama makanan yg d slide, mohon tambahkan text pada foto slide nama makanan

  3. Kita datang jam 12.30 ….. tapi karena pintunya masih tulis Closed saya tanya apakah sudah buka….mbaknya bilang belum buka (padahal ditulis buka jam 12.00 – 22.00) dengan alasan yg ditulis adalah waktu untuk staff (seriously?????) Jadi saya tanya jam berapa baru buka dan dijawab jam 2, jadi saya bilang kalo gitu harusnya ditulis jam 2 waktu buka supaya ngga membingungkan customer. Mbaknya blg bentar yah di cek dulu…trus bilang 30 menit lagi bisa ready. Karena sudah jauh2 kesana kita memutuskan untuk nunggu aja. Setelah menunggu 20 menit kita tanya apakah boleh order dulu? Mbaknya jawab belum bisa harus nunggu 30 menit lagi. Kita sangat look foward untuk mencoba makanan disana tapi karena sudah kelaparan kita pindah ke tempat lain aja. Mengecewakan.

  4. Kata pelayannya sih kalau yg gam itu porsinya lebih gede.
    Buat yg cowo, di sini kalau mau makan nasi barianinya, jangan ambil yg porsi biasa. Saya jamin gak bakal kenyang. Ambil yg gam saja.
    Berasnya tampak panjang, namun pas dimakan, gak terasa kepadatannya. Cuman itulah khasnya di sini dan saya suka.
    I’ll come again for the second visit.

    1. Wah kurang tau juga yah, karena kunjungan kami itu 1 hari pas sebelum puasa dimulai, mungkin bisa telpon nomor diatas buat konfirmasi.

Berikan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s