Jelajah Kuliner Legendaris Tebing Tinggi! Yang No.1 Galak Banget!

Tebing Tinggi menjadi pilihan destinasi berburu kuliner berikutnya, setelah sebelumnya mengunjungi Binjai, Lubuk Pakam dan Kabanjahe.

We have to admit kalau hampir semua lokasi yang kami kunjungi di kote yang satu ini endes pol!!!

I mean, meskipun jadwal kami cukup padat miss atau skip 1 lokasi saja pun terasa sayang banget.

Vihara Maha Dana Tebing Tinggi

Yah semua itu karena rekomendasi dari anak-anak MaMa di Instagram kemarin.

Without further ado, check out the list below!

Kedai Kopi Bali

Kami tiba di Kedai Kopi Bali sekitar pukul 9.15 pagi.

Oh ya, sebelumnya, kami memilih jalur bebas hambatan (jalan tol) agar terbebas dari macet. Tebing Tinggi memang terkenal sebagai kota lintas/transit, jadi wajar saja kalau kami memperkirakan kemacetan yang mungkin terjadi.

Hanya butuh waktu 40 menit dari pintu tol Bandar Selamat sampai tiba di pintu tol Tebing Tinggi, dan cukup merogoh kocek sebesar 50ribuan saat itu (beda titik akses, beda harga).

Nah, since Kedai Kopi Bali menjadi tujuan pertama, kami merasa cukup excited untuk mencobanya.

30 detik kemudian, kami mulai menyesali itu. HAHA! Yang jualan galak banget! Literally, kami dimarahi!

Terlepas dari itu, nasi sayur dan lontong sayur yang disajikan di sini ternyata sangat memuaskan perut dan lidah kami pagi itu.

Lebih dari cukup untuk membayar kekesalan kami atas insiden tadi. HAHA!

Selain dari gulai yang intens dan gurih, ayam goreng dengan sambal ijo kecap pun menjadi highlight kami. Apalagi ayamnya baru digoreng ketika ada yang memesan.

Panas dan pedas! Suedeeeepp!

Es Krim Pokat AU

Next stop kami yang satu ini adalah es krim yang sudah sangat legendaris di kota Tebing Tinggi.

Hampir semua orang yang mengunjungi Tebing Tinggi, singgah di spot Acek AU. Meskipun sekarang tidak bisa disebut “Acek” (paman) lagi karena yang jualan sudah merupakan anggota pekerjanya.

Tapi tenang, resep masih dibuat oleh si ahli langsung kok. Koko pekerjanya hanya membantu beberapa bagian proses dan berjualan.

Aroma dan rasanya yang enak masih seperti rasa yang dulu pernah ada. Aseekkkkk!

Kombinasinya sangat unik: Es Krim Nangka berwarna putih menjadi layer terdasar, lalu diberikan Pokat Kocok, Bubuk Coklat, Gula Merah yang kental dan ditutupi lagi dengan 1 layer Es Krim Nangka.

Fresh and good as ****! HAHA!

Anyway, kalau punya kembalian 2ribu perak (atau bahkan kalau tidak ada), pastikan kamu memesan 1 gelas “lemonade” dari Es Krim Pokat AU ini.l

Restoran India

Restoran India ini merupakan salah satu yang paling banyak direkomendasi setelah Mie Rebus Tambi (ada di akhir artikel).

Area dine-in nya sangat luas. Jumlah dapur bahkan ada 5. Masing-masing mempersiapkan jenis makanan yang berbeda.

Dari menu utamanya yaitu asal India, Oriental, Beverages, dll. Personally, I can barely remember karena menunya yang bervariatif.

Jarang-jarang kan ketemu dimsum dan nasi briyani duduk berbarengan di atas meja, di dalam satu restoran, oleh satu owner.

We gave the least expected dishes a try first, aneka dimsumnya. Taste wise good, mungkin terasa ordinary, but to think that this menu came out from an Indian Restaurant, it’s “qualified” I think.

Nasi Briyani was awesome. Spices pada nasi basmati-nya kuat banget dan daging kari kambingnya lembut.

Trivia: Martabak India, Martabak Mesir dan Martabak Kairo itu semuanya berbeda.

Kulit martabak pada Martabak Kairo berada di bagian dalam dan diselimuti oleh daging, sedangkan Martabak Mesir justru merupakan kebalikannya. Daging-daging cincang dibalut dengan kulit martabak yang digoreng hingga kering.

Kalau Martabak India? Cuma telur doang, nggak pake daging-daging begitu.

Pro Tips a.k.a NSFW: Siomay-nya kalau dicelupkan ke kuah kari, rasanya endes banget!

Roti Kacang Cap Rajawali

Roti Kacang Cap Rajawali ini menjadi mandatory stop di Tebing Tinggi.

Yah, meskipun ini makanan udah bisa dijumpai di Lubuk Pakam yang notabene deket dengan kota Medan dan bahkan bisa ditemukan di beberapa lokasi di Medan.

Tapi, menikmatinya langsung dan fresh dari oven di outlet utamanya ini memberikan sensasi yang berbeda.

Terdapat 2 jenis ukuran kemasan ternyata. Entah gue yang kurang jauh mainnya atau apa, selama ini gue hanya pernah melihat 1 jenis ukuran doang.

Kemasan yang kecil bisa dibeli seharga 28ribu dan kemasan besar bisa dibeli dengan harga 35ribu. Rasanya ya sama aja! Rapuh dan masih nendang!

Lemang Batok

Selain sebagai kota lintas, Tebing Tinggi lebih dikenal dengan julukan Kota Lemang.

Bahkan begitu keluar dari pintu tol saja pun sudah bisa dijumpai penjual lemang yang bertebaran di sepanjang sisi jalan.

Namun, pilihan kita jatuh kepada Lemang Batok yang sudah berjualan puluhan tahun dan beralih generasi.

Lemang dapat bertahan hingga 3 hari selama berada di dalam batok bambu. Kami cukup setuju dengan pernyataan itu, pasalnya, lemang masih terasa hangat saat kami sudah tiba di Medan pada malam harinya.

Ada 2 jenis ukuran Lemang di sini, sesederhana ukuran besar atau kecil. Rasanya masih sama-sama nendang. Lembut, sedikit berminyak, namun gurih!

Lemang pulut hitam pun tersedia di sini, sayangnya beras terasa keras dan kering. Sepertinya belum mencapai tingkat kematangan yang pas.

Even so, srikaya-nya yang manis dan sangat bikin nagih ini best banget kalau dijadikan cocolan. Both pulut biasa dan pulut hitam bakalan terasa membanting lidah kalau dinikmati dengan srikayanya.

Mie Rebus Tambi

Last but not the least, penjelajahan kami hari itu berakhir di Mie Rebus Tambi.

Sebenarnya kami menyasar outlet paling pertamanya yang sudah berumur 50 tahun di jalan protokol Tebing Tinggi. Namun karena jam buka yang kurang sesuai dengan jadwal kami, kami akhirnya memilih singgah di outlet cabangnya yang baru buka belakangan.

Setelah kami tanya-tanya, mie rebus di sini nggak berbeda kok dengan outlet utamanya. Dapurnya sama dan dimasak oleh orang yang sama.

Yang bikin spesial di Mie Rebus Tambi adalah kelapa yang dicampurkan dengan tepung dan digoreng hingga garing dan manis. Bentuknya kecil seperti dadu dan berwarna kecoklatan.

Personally, gue request untuk tambahin bahan yang satu ini ke dalam mie rebus. Ini yang nggak bisa ditemukan di tempat lain nih.


Itu saja penelusuran kami kali ini di kota Tebing Tinggi. Tentu saja belum semua spot kuliner masuk.

Keterbatasan waktu, perut dan DANA (HAHA!) mungkin jadi hambatan kami. So, kami kumpulin dulu beberapa spot lain lagi termasuk yang kamu -kamu rekomendasikan untuk kami kunjungi di kesempatan berikutnya!

Nonton video selengkapnya di sini:

Leave a Reply