The Thirty Six Coffee

thirty six coffee machine The Thirty Six Coffee

“In this house, we do mistakes, we do ‘I’m sorry’, we do second chances…” Penggalan kalimat mural di dinding interior Thirty Six coffee ini nampaknya memberikan kesan yang dalam. Cafe yang hadir tidak lama di Medan ini menempati posisi yang paling strategis di daerah Multatuli. Dengan lokasi parkir yang luas dan ruangan cafe yang spacious, Thirty Six hadir di Medan dan beralamat di Jalan Multatuli no 36. Lalu apa yang menarik dari penggalan kalimat sebelumnya?

Suer…ga susah koq nyari tempat ini. Bangunan yang warnanya di cat pale white dan dikontrasin dengan hitam ini dijadikan sebagai cafe sekaligus roasting house. Suasana yang homey akan terasa ketika anda masuk kedalam. Design interior yang sederhana dengan warna putih di dinding dan earthy tone pada furniture nya memberikan rasa nyaman, terlebih-lebih dengan jendela besar dan penerangan natural light yang merata disetiap sudut ruangan.

Ruang makan terbagi dua, ber-AC non smoking yang dapat diakses ketika anda masuk kedalam ruangan, atau open space yang lokasinya di belakang rumah, destinasi smokers. Halaman belakang cafe juga boleh dibilang luas, berpotensi untuk dijadikan venue event-event tertentu.

Kunjungan kami di minggu pagi itu bermaksud mencicipi menu brunchnya, karena boleh dibilang Thirty Six merupakan salah satu cafe yang buka lebih awal di area Multatuli. Pesanan pun jatuh ke Egg Benedict (53rb) dan Mushroom on Toast (45rb). And beverages? Coffee of course… a cup of latte dan black coffee (complimentary dari menunya). Anyway, menu ini hanya tersedia di weekend saja.

Egg Benedict, didatangkan dengan plating kayu dan semangkuk salad. Unconventional way of serving terutama untuk cafe ukuran Medan, but pretty innovative. Baguette dengan topping ham dan poached egg disiram dengan saus hollandaise. Western style brunch that really awakes the mood.

Menu yang hampir serupa penampilannya ialah Mushroom on Toast. sauted mushroom dengan bayam ditaruh diatas baguette dan ditemani scrambled egg serta fresh vegetables. Taste pretty light and decent dengan aroma mushroom yang wangi.

Karena takut ga kenyang, ditambahlah Aglio Olio. Resep pasta sederhana disini terasa sedikit pedas. Nonetheless, standard taste found in most cafes in Medan and nothing fancy.

Perhaps dari semua elemen di Thirty Six, aset yang paling menarik perhatian kami ialah sebuah mesin espresso. Merek La Pavoni buatan Italia dengan piston 4 group heads ini merupakan mesin espresso satu-satunya di Medan, if not Indonesia. Dari segi harga, jangan ditanya lagi. Mesin 4 piston yang idealisnya lebih cocok digunakan coffee shop yang trafficnya tinggi ini terpajang di Thirty Six sebagai lambang prestige dan envy bagi kalangan barista dan pengelola coffee shops lain di Medan.

Keberadaan mesin ini pun tampaknya menjadi simbol keseriusan dalam mengelola kopi, ditambah lagi sebuah mesin roasting komersial yang digunakan untuk me-roasting biji kopi, yang terpampang megah di ruangan belakang. Kurang tau apakah coffee shops ini menawarkan penjualan biji kopi untuk level retail, karena tidak tercantum di menu.

Good looking machine won’t be up to the potential without the man behind. Thirty Six mempersenjatai beberapa barista dan pagi itu kami disajikan kopi yang nikmat, walau sesungguhnya saya masih penasaran karena bukan ‘jagoan utama’nya yang berperan. Good coffee, but I was expecting something more magical and surprising dari investasi yang menelan biaya yg tidak sedikit.

Conclusion? Strategic place, spacious parking spot, warm and comfortable interior, ruang smoking dan non-smoking yang terbagi rata, good food on that visit, good coffee. Kunjungan review kali ini tidak banyak berkomentar pada makanan, yang sebenarnya menurut gosip dari luar masih butuh improvement. But that would be reserved on next visit, when the sun goes down and dinner is served while we’re observing how the interior is lit and present different mood and ambience.

Admittedly, awal perjalanan cafe ini tidak begitu mulus karena kecaman mengenai servis dan makanannya dari word of mouth pengunjung (setidaknya dari pengalaman kami juga saat itu). Menyambung frase dari paragraf pertama “…We do fun, we do hugs, we do forgiveness, we do really loud, we do family, we do love” sepertinya Thirty six telah banyak melakukan overhaul pada manajemennya. It’s just a matter of time to gain the momentum back, but rest assured after this visit, we do…come back.