The Thirty Six Coffee

thirty six coffee machine The Thirty Six Coffee

“In this house, we do mistakes, we do ‘I’m sorry’, we do second chances…” Penggalan kalimat mural di dinding interior Thirty Six coffee ini nampaknya memberikan kesan yang dalam. Cafe yang hadir tidak lama di Medan ini menempati posisi yang paling strategis di daerah Multatuli. Dengan lokasi parkir yang luas dan ruangan cafe yang spacious, Thirty Six hadir di Medan dan beralamat di Jalan Multatuli no 36. Lalu apa yang menarik dari penggalan kalimat sebelumnya?

alamat thirty six coffee medan The Thirty Six Coffee

Suer…ga susah koq nyari tempat ini. Bangunan yang warnanya di cat pale white dan dikontrasin dengan hitam ini dijadikan sebagai cafe sekaligus roasting house. Suasana yang homey akan terasa ketika anda masuk kedalam. Design interior yang sederhana dengan warna putih di dinding dan earthy tone pada furniture nya memberikan rasa nyaman, terlebih-lebih dengan jendela besar dan penerangan natural light yang merata disetiap sudut ruangan.

thirty six cafe The Thirty Six Coffee

Ruang makan terbagi dua, ber-AC non smoking yang dapat diakses ketika anda masuk kedalam ruangan, atau open space yang lokasinya di belakang rumah, destinasi smokers. Halaman belakang cafe juga boleh dibilang luas, berpotensi untuk dijadikan venue event-event tertentu.

thirty six cafe medan The Thirty Six Coffee

Kunjungan kami di minggu pagi itu bermaksud mencicipi menu brunchnya, karena boleh dibilang Thirty Six merupakan salah satu cafe yang buka lebih awal di area Multatuli. Pesanan pun jatuh ke Egg Benedict (53rb) dan Mushroom on Toast (45rb). And beverages? Coffee of course… a cup of latte dan black coffee (complimentary dari menunya). Anyway, menu ini hanya tersedia di weekend saja.

thirty six egg benedict The Thirty Six Coffee

Egg Benedict, didatangkan dengan plating kayu dan semangkuk salad. Unconventional way of serving terutama untuk cafe ukuran Medan, but pretty innovative. Baguette dengan topping ham dan poached egg disiram dengan saus hollandaise. Western style brunch that really awakes the mood.

thirty six mushroom baguette The Thirty Six Coffee

Menu yang hampir serupa penampilannya ialah Mushroom on Toast. sauted mushroom dengan bayam ditaruh diatas baguette dan ditemani scrambled egg serta fresh vegetables. Taste pretty light and decent dengan aroma mushroom yang wangi.

thirty six aglio olio The Thirty Six Coffee

Karena takut ga kenyang, ditambahlah Aglio Olio. Resep pasta sederhana disini terasa sedikit pedas. Nonetheless, standard taste found in most cafes in Medan and nothing fancy.

la pavoni thirty six The Thirty Six Coffee

Perhaps dari semua elemen di Thirty Six, aset yang paling menarik perhatian kami ialah sebuah mesin espresso. Merek La Pavoni buatan Italia dengan piston 4 group heads ini merupakan mesin espresso satu-satunya di Medan, if not Indonesia. Dari segi harga, jangan ditanya lagi. Mesin 4 piston yang idealisnya lebih cocok digunakan coffee shop yang trafficnya tinggi ini terpajang di Thirty Six sebagai lambang prestige dan envy bagi kalangan barista dan pengelola coffee shops lain di Medan.

coffee thirty six comp The Thirty Six Coffee

Keberadaan mesin ini pun tampaknya menjadi simbol keseriusan dalam mengelola kopi, ditambah lagi sebuah mesin roasting komersial yang digunakan untuk me-roasting biji kopi, yang terpampang megah di ruangan belakang. Kurang tau apakah coffee shops ini menawarkan penjualan biji kopi untuk level retail, karena tidak tercantum di menu.

roasting machine comp The Thirty Six Coffee

Good looking machine won’t be up to the potential without the man behind. Thirty Six mempersenjatai beberapa barista dan pagi itu kami disajikan kopi yang nikmat, walau sesungguhnya saya masih penasaran karena bukan ‘jagoan utama’nya yang berperan. Good coffee, but I was expecting something more magical and surprising dari investasi yang menelan biaya yg tidak sedikit.

thirty six cafe latte The Thirty Six Coffee

Conclusion? Strategic place, spacious parking spot, warm and comfortable interior, ruang smoking dan non-smoking yang terbagi rata, good food on that visit, good coffee. Kunjungan review kali ini tidak banyak berkomentar pada makanan, yang sebenarnya menurut gosip dari luar masih butuh improvement. But that would be reserved on next visit, when the sun goes down and dinner is served while we’re observing how the interior is lit and present different mood and ambience.

the thirty six medan The Thirty Six Coffee

Admittedly, awal perjalanan cafe ini tidak begitu mulus karena kecaman mengenai servis dan makanannya dari word of mouth pengunjung (setidaknya dari pengalaman kami juga saat itu). Menyambung frase dari paragraf pertama “…We do fun, we do hugs, we do forgiveness, we do really loud, we do family, we do love” sepertinya Thirty six telah banyak melakukan overhaul pada manajemennya. It’s just a matter of time to gain the momentum back, but rest assured after this visit, we do…come back.

97 Replies to “The Thirty Six Coffee”

  1. Harga aglio oglio nya brapa ya? Dan harga rata” minumannya brapa juga ya? Soalnya saya lagi mencari info. Thanks

    Like

  2. Harga aglio oglio nya brapa ya? Dan harga rata” minumannya brapa juga ya? Soalnya saya lagi mencari info. Thanks

    Like

  3. Maksud cuman mau browse egg benedict in Medan, end up reading all these aca aca fighting. Jadi pengen comment juga ahhh ;P Jujur kalau saya sebagai orang yang buta Medan perang ini and cuman ngerti makan biasa dan minum ajah sih merasa amat terbantu dengan adanya blog MaMa. Walaupun banyak juga yang selera MaMa berbeda dengan selera saya yang lidah sunda ini but at least selama 2 tahun saya di Medan, MaMa merupakan blog acuan saya untuk MakandiManakah; and I should say that this blog is very helpful. Dan saya yakin pasti banyak juga pembaca-pembaca yang sama nasibnya dengan saya yang lagi bingung ‘mo makan apalagi hari ini’ browse MaMa untuk dapatkan ide mengenai tempat makan yang kira-kira asyik untuk di visit.
    Masing2 blogger pasti beda2 gayanya, masing2 pembaca juga beda akan kebutuhan informasinya.
    Dan still menurut saya pribadi yang ga ngerti etika2 dalam dunia blog, saya merasa blog ini simple yet helpful.
    Peace 😉

    Like

  4. Beberapa hari lalu baru singgah di spot ini.
    Well, setuju dengan MaMa.

    Its place quite strategic di kawasan Multatuli.
    Spacious parking spot (cuma agak gelap dan serem karena minim penerangan pas malam; soalnya singgah pas matahari sudah terbenam (alias malam)).
    Warm welcome from the waiter/waitress.
    Comfortable interior dengan disain gambar bercerita di dinding.
    Ruang smoking (or lets name it “outdoor ‘santai’ space”, coz yang gak merokok juga pada banyak yang milih di sini) dan non-smoking (“air-con ‘chatiing’ space”) yang terbagi rata.
    Kebetulan juga ada local band yang main live juga pas malam itu, yang cukup menghibur suasana yang cukup ramai di bagian outdoor.
    Food is average. Especially for Chicken Quesadilla, yang menurut waiter-nya adalah fav-menu, namun ternyata terkesan biasa saja. Andaikan isi chicken-nya bisa diperbanyak, dan kulit dapat dibuat lebih crispy, pasti lebih oke.

    Saran:
    Food need more improvement.
    Also need to pay attention on toilet, which door must be kept closed all the time, to make sure no strange smell spread-out.

    Overall, RECOMMENDED!

    Like

  5. A really nice place, indeed. Kalo cuaca lg panas2nya, duduk di indoornya, fav spot: long table yg terletak pas di depan bar n bisa keliatan outdoor area. Kalo cuaca lg mendung, try the outdoor area, ada small garden lho, bisa petik2 daun mint n rosemary *entah sebenarnya boleh petik atau tidak* Menu favorit: flat white n green apple parfait, main course: so far semuanya enakkkk.

    Like

  6. “Kurang tau apakah coffee shops ini menawarkan penjualan biji kopi untuk level retail, karena tidak tercantum di menu.”
    ya….thirty six jual biji kopi juga om…krn t4 saya kerja beli arabica beans nya…just FYI…

    Like

  7. Makasih MaMa udah bahas coffee dan makanannya.

    Gw ke coffee shop ngga hanya untuk ngopi… tetapi percaya lah, gw ‘orang’ kok 🙂

    di Belanda gw ke coffee shop buat nyimenk malahan… best seller drink in Dutch Coffee Shops? Tea!

    LMAO!

    Like

  8. Hmph…pak kopibrik sabar…pendapat bapak gk akan dapat hasil yang bagus di mata group mereka…apalagi kalo tntg coffee…maklum coffee lg trend di medan…

    Sering kita mendengar ajakan kawan “ngopi yuk” padahal da nyampe di coffeeshop gk mnum coffee melainkan yg laen…nah ini lah keindahan dr coffeeshop atau kedeikopi atau kopitiam… semua orang bebas berpendapat, semua orang bebas berkicau..tapi harus di ingat kita masi menginjakan kaki di bumi yg dihuni manusia lain bukan cuman bumi milik pribadi….lebih baek berkaca masing2 apa kekurangan masing2…

    anyway yg mw share coffee skill silahkan cari ruang dan keadaan yg tepat…coffee itu bukan cuman ada rasa pahit..pahit tuh karena salah….mau perbaiki skill atau ndak yah terserah anda masing2…

    Makanmana ditunggu review berikut nya…hehehehe…

    Like

  9. @Bucek: Anda kok bingung dan apa hak Anda menilai saya seorang yang konyol. Saya juga bisa mengatakan anda lebih dari KONYOL karena menilai saya mengumbar sensasi?

    Like

  10. saya sudah meragukan kredibilitas Makanmana.net sebagai bloger kuliner yg profesional, saya tidak bermaksud membela Blogjurnalis maupun kopibrik. bisa kalian lihat bagaimana seorang pembaca yg mempertanyakan ketidak kredibelan makanmana sebagai blogger kuliner di artikel ini,

    http://www.makanmana.net/havana-kafe-cuban-cuisine/

    dan saya lihat, setiap kali ada yg mengkritik makanmana, ada grup yg selalu “setia” membela makanmana, seperti diarahkan massanya.. hehhe, mhn maaf kalau komentar saya apa adanya.. moga bisa jadi pelajaran buat makanmana.

    Like

    1. @Mr.Luki: Sebagai orang yang sama-sama di pihak yang netral, saya sangat tertarik saat membaca komentar Anda. Bahkan Anda memberikan tambahan link untuk mendukung pendapat Anda. Sungguh sangat menarik terlebih Anda menggunakan kata “mengarahkan massa”. LOL…

      Tapi begitulah manusia, saat salah satu temannya diserang oleh kelompok/pribadi tertentu, maka teman-temannya yang lain akan turut membantu.

      Sempat juga membuka link dan membaca review mengenai Havana Cafe plus comment nya (Phew.. Rupanya panjang kali). Dan setelah saya amati, permasalahannya mengenai komentar atas cita rasa dan harga. Pendapat saya, ada beberapa orang dari kru MaMa (Bobby, Leo, dan YeHa) mencoba memberikan penjelasan dan pengertian mengenai review atas Havana Cafe. Tujuannya bisa saling berdiskusi. Namun ada pihak dari rekan pembaca yang memperpanas situasi dengan menggunakan kata “pemilik resto yang kurang suka dikritik” dan beberapa kalimat lainnya (Bagi yang bersangkutan, no hard feeling ya hanya mencoba menjelaskan) yang membuat orang yang mengkritik manjadi emosi sehingga pendapat dari Bobby dan YeHa yang tujuannya untuk saling berbagi menjadi tidak dihiraukan dan terjadi perdebatan. Kalau sisanya saya lihat cuma drop comment saja untuk memperkaya review.

      Itu menurut pendapat saya. Saya hanya melihat hal ini dari sisi yang netral. Bagaimana menurut Anda, Mr. Luki? Hanya ingin berbagi saja. Barang kali bisa menjadi masukan bagi saya sendiri dan bagi manajemen MaMa.

      Best Regards

      Like

  11. Entah saya hrs bingung atau terpana setelah membaca komentar panjang di artikel ini. Saya merasa kopibrik pada awalnya mempertanyakan kode etik jurnalisme dan diakhiri dengan mengumbar sensasi, kontroversi dan berpromosi ini sungguh diluar etika. Sebagai jurnalis profesional dan pecinta kopi, Anda jelas orang yang konyol.

    Like

  12. Wow.. Hot spot nih..
    Hahaha..
    Take it easy guys..

    First of all, sesama blogger jangan saling menjatuhkan lah.
    Setiap orang pasti punya kelemahan dan kelebihan. Begitu juga blog yang dimilikinya.

    MaMa, pastinya lebih review makanan pada intinya dan minumannya sebagai tambahan (gak mungkin kan makan gak minum). Dan saya lihat MaMa lagi belajar mengenai kopi (dilihat dari beberapa blog mengenai coffee shop dan Coffee knowledge with Ronald Pilastro). Blog kan ditulis berdasarkan pemikiran dan penalaran dari sang penulis blog, apa yang menurut pendapatnya benar itulah yang dicantumkan di blog nya.

    Buat Mr. BlogJurnalis/Kopibrik, coba lah untuk lebih tenang. You’re too aggressive man. Mungkin Anda hanya ingin memberikan kritik/saran mengenai etika jurnalis dan berusaha untuk mempertahankan diri Anda. Tapi coba dengan cara yang lebih baik bukan dengan ber-emosi. Ingat, Anda menulis komentar di blog orang lain (baca: makanmana.net) bukan blog Anda sendiri. Jadi kalau Anda ingin melemparkan kritik dan melakukan pembalasan jika kritik Anda tidak diterima, Jangan disalahkan jika bakal banyak komentator lain yang memojokkan dan menjatuhkan Anda. Seharusnya Anda mengerti keadaannya juga.

    Dan saya lihat Mr. Leo sudah tidak berkomentar apa-apa mungkin mencoba memikirkan kembali kritik yang Anda (Mr. BlogJurnalis/Kopibrik) berikan. Jadi buat apa Anda (Mr. BlogJurnalis/Kopibrik) masih ingin bermasalah dengan komentator yang lain bahkan sampai ingin berdebat tatap muka. Janganlah memperkeruh keadaan. Live in peace buddy.

    And about Mr. Fat Boy, emank dari awal (tulisan tips bisnis kuliner medan) Mr Fat Boy berusaha agar resto nya tidak direview. Mungkin ada alasan tersendiri kenapa tidak mau direview. Just let it be. Ya, barang kali kita pernah menginjakkan kaki di resto nya, atau bahkan mengenal sosok asli dari Mr. Fat Boy. Doesn’t it, Mr Fat Boy? HAhahaha..

    At last, Bukan berkeinginan untuk menjatuhkan Mr. BlogJurnalis/Kopibrik atau membela MaMa. I’m Netral. Saling menghargai saja, jika ada kometar/kritik/saran di drop aja di comment box. Diterima syukur, gak diterima just let it be. Tidak harus dipaksakan harus diterima. Pemikiran setiap orang kan berbeda.

    That’s all. Semoga bisa diterima dengan hati yang terbuka.
    And for Ms. Shilvia, You’re such a great lady.

    Thanks..

    Mike

    Like

    1. @BocahtuaNakal: coba lihat dari atas komentar saya bagaimana. Bukankah Makanmana yang seolah “mencak-mencak” ketika saya memberikan sedikit kritikan atas review mereka. Lantas, setiap pembaca haruskah selalu memberikan pujian? Kritikan harusnya diterima untuk membangunm bukan untuk menjatuhkan. Saya ingin memberikan kritik untuk membangun, bukan untuk membangun. Tapi mungkin Manamana mengira kritikan saya untuk menjatuhkan.

      Dari awal saya mencoba menjawab setiap komentar balasan dari komentar saya yang pertama. Sebenarnya, saya pun ingin menghentikan debat ini. Saya harap bung berpikir objektif.

      Like

      1. Saya ingin memberikan kritik untuk membangun, bukan untuk membangun.

        ralat: Saya ingin memberikan kritik untuk membangun, bukan untuk menjatuhkan.

        Like

      2. @Mr. BlogJurnalis: Yes, I know what you mean. Saya bisa mengerti maksud Anda di awal saat memberikan komentar. Seperti yang saya bilang sebelumnya, setiap orang mempunyai pandangan dan pola pikir yang berbeda dan jika dia merupakan seorang penulis maka pandangan dan pola pikir tersebut lah yang menjadi dasar dari tulisan yang dibuat. Apakah kita sependapat?

        Anda berkomentar mengenai “words of mouths” (saya buat jamak karena menurut saya bukan hanya sebuah komentar dari satu orang, pastinya lebih dari satu). Kata “words of mouths” sendiri saya artikan sebagai komentar/kritik/saran dari orang lain. Komentar/kritik/saran disertai Nama yang memberikan namun ada orang yang tidak mau mencantumkan namanya. Dan jikalau dicantumkan orang yang memberikan komentar, saya rasa kita sebagai pembaca juga belum tentu mengenalnya. Tapi satu hal yang pasti adalah mencantumkan nama atau tidak, orang yang memberikan komentar pasti orang yang mengunjungi coffee shop tersebut.

        Itu pendapat saya mengenai makna “words of mouths”. Nah, Mr. BlogJurnalis yang terhormat, maksud saya mengenai komentar sebelumnya. Anda menulis di halaman orang lain (baca: makanmana.net) dan seharusnya Anda mengetahui bahwa pastinya pembaca-pembaca yang berada di halaman ini adalah mayoritas pendukung makanmana.net dan jikalau Anda memberikan efek-efek yang negatif, maka pembaca-pembaca akan memberikan dukungan lebih kepada pihak makanmana.net.
        Jadi, seharusnya Anda sebagai orang yang lebih profesional dan orang yang telah banyak berpengalaman di bidang jurnalistik, Anda seharusnya bisa bertindak lebih bijaksana dalam menghadapi masalah ini. Apalagi Anda mengetahui bahwa mayoritas dari pihak makanmana.net dan para rekan pembaca adalah orang-orang yang masih muda dan tidak memiliki banyak pengalaman di bidang jurnalistik. Dimulai dari hobi membaca kemudian mencoba menulis dan senang menulis melalui blog.

        Menurut pendapat saya, Mr. BlogJurnalis yang terhormat. Ada baiknya jika saat memberikan kritik mengenai “words of mouths” langsung diberikan solusi atas masalah tersebut. Mungkin dengan diganti dengan kata tertentu atau metode tertentu. Dan jika telah diberikan solusinya, habis perkara masalah terima atau tidak itu sudah bukan bagian dari Anda. Biarlah penerima kritik dan solusi yang menentukan diterima atau tidak. Dengan begini Anda tidak perlu memperpanjang persoalan dan menjadikan sebuah debat yang tidak akan berakhir.

        Begitu maksud saya. Bertindaklah bijaksana. Saya tahu Anda itu adalah seorang profesional yang menjunjung tinggi kode etik dan seorang pemimpin yang handal.

        @Shilvia: Best wishes for you and your blog.
        Do your best.

        At the end. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan baik kepada Mr. BlogJurnalis, manajemen makanmana.net, dan rekan-rekan pembaca. Saya hanya bertindak netral sebagai pengamat.

        Best regard

        Like

  13. Dan, setidaknya saya berhasil membuat ini jadi trending topic di blog ini. Hehhehe, ini bukan hanya sekadar teori, lho. Dalam ilmu komunikasi, ini sudah berhasil.

    Kebetulan, ayo ramaikan Latte Art Competition di Thirtysix, Jumat ini.

    Buat yang ingin berdebat mengenai blog dan jurnalisme dengan saya, saya tunggu. Atau mari bergabung di komunitas kami Blogger Medan Community atau Sumatra Coffee Enthusiast.

    Mari sama-sama belajar, belajar menerima kritik. Karena orang yang mau maju ialah orang yang menganggap kritik sebagai motivasi, bukan upaya untuk menjatuhkan. Saya terbuka kok. Mari, monggoo…

    Like

    1. Iya dalam teori, Chaos Theory, semua jadi chaos…but anyway, ntah sejak kapan makanmana jadi ajang debat teori ilmu komunikasi.

      Untuk mengakhiri debat konyol ini maka saya mengucapkan:

      Selamat dan sukses kepada bro @kopibrik, anda berhasil memenangkan Debat Journalisme di MakanMana, semoga penghargaan yang didapat ini bisa berguna bagi kemajuan nusa dan bangsa! Horas!

      Iya semoga juga anda sukses di Latte Art Competition, seperti anda memenangkan Debat Journalisme di MakanMana ini.

      NB. Abis ini gw ga bakalan lagi meladeni segala kekonyolan yang berbau debat atau mengarah ke debat dari pihak manapun, terserah anda mao ngomong apa, ga akan ada habisnya. Kayak ga ada kerjaan laen aja.

      Like

  14. Yoo! Please read and understand what I mean here. I just explain simple things and “you who feel that you are” just comment like you even dont understand what I mean here. Sorry but it was just simple explanation.
    Thankss

    Like

  15. Dear all Komentator and some advisor, mohon maaf dikala ada kata-kata saya yang kurang bagus.

    But as for me, a food blogger have their right to share what they see and review on the food based on what they taste.
    We’re not chefs of food expert but this blog was about food, oh come on, if you wanna share about coffee why don’t we move this discussion to your blog Mr. Kopibrik?

    Even I was an amateur Food-blogger, but I dare to say that which place served best food and which place served not very good food. And I still learn things about culinary by reading all food blogger blogs.

    Different people different taste I think. So that about coffee too. Like what @Bocahgendut said, he loves the bitter, a little sweet coffee, that was what he loved.
    Maybe your knowledge about coffee was better than anyone of us here, that’s why you did your Kopibrik.com right?
    So let’s share about the coffee knowledge to your blog and let all of us know what a real coffee are dear Mr.Kopi Brik
    Just That what I think. Merci beacoup.. 🙂

    Please just calm down a bit when you do want to comment on someone’s blog. 🙂

    Like

  16. Mungkin setiap orang kan gaya penulisan pasti berbeda yah.. memang sih.. ada kode etik dalam jurnalis.
    Kalau aku liat sih dari selama review makanmana, ya memang bener bener sangat ngebantu dalam ber-kuliner, dan bahkan pas ada comment dari orang yang bilang makanannya gak enak gitu (misalnya), ada beberapa owner nya malah langsung ngucapin terimakasih banyak karena kritikannya, jadi kan kedepan bisa lebih baik. Toh, niat mereka ini lebih ke ‘sharing’ pengalaman sih, bukan ngejudge atau ngejatuhin. Bener tuh kyk comment nya bro hendriks.. gak semua orang kok setuju sama review nya makanmana, kan semua punya penilaian masing masing juga.
    Tapi salut deh sama pengetahuan suhu suhu diatas. Proud of you guys ! Majukan kuliner di medan..

    Like

  17. Pak Kopi you were right,and Mama Crews you were also right,end of discussion…Period! You guys made me hungry..

    Like

  18. Gimana kalau semua orang pergi ke Thirty Six yuk! dan bagi pengalaman nya masing masing, hahaha!!! Personally, waktu makan situ, makanan nya enak, a lot nicer than other cafes. Tapi itu bukan brunch seperti yang lagi di review disini. Kek nya based on the photo above, the food looked well made, perfectly poached egg and perfect textured hollandaise. The mushroom seemed fresh and not canned like what other cafes usually use. Veggies looks fresh and crisp. I feel a good effort from them. But, of course, I have to go there and taste it for myself, hahaha!!!

    Like

  19. Mungkin setelah membaca review dan comment2 dari master2 di atas, intinya adalah boleh pesen coffee nya tp jgn makanannya.

    Like

    1. Ga juga, makanan bole dipesan kok, bukan ga enak kok, rasanya standard, nothing fancy. Tapi menurut saya ya, the quality is already considered up to standard, dari segi penyajian dan rasa.

      Tapi menurut pakar kopi, sebaiknya kalau Coffee place seperti thirtysix jangan difokus ke makanan nya tapi lebih baik ke kopi nya, soalnya tempat ini namanya Thirtysix Coffee, bukan restaurant, makanya lebih baik pesan kopi nya daripada makanannya. Jadi jangan salah kaprah, karena itu menurut pakar kopi kita tersebut.

      Coffee nya jg standard, not bad, also okay, cuma rasanya ga sepadan dengan harga mesinnya yang wuah. But im not gonna go in depth here, soalnya tar kalo gw komen byk, ada pakar kopi yang ga suka. Ehem…

      Sekali lagi, MaMa ga pernah bilang sama sekali kalau makanannya tidak bole dipesan. Jangan salah kaprah.

      Like

      1. Jangan salah kaprah @BocahGendut, saya bukan pakar kopi.
        Saya hanya pecinta kopi. *jangan salah kaprah. Senang melihat Anda suka menggunakan kalimat itu. Setidaknya pesan saya sedikit tersampaikan. Hehhe, pizz Bocah ndutt…

        Like

      2. Iya anda jadinya salah kaprah, saya ga pernah mengatakan anda Pakar Kopi kok. Di bagian mana anda berasa saya tengah membicarakan anda? Sama sekali tidak ada saya menyinggung bahwa anda seorang pakar kopi. Lucunya anda yang membalas comment saya.

        Baguslah kalau anda senang, semoga anda mengerti arti nya “Jangan salah kaprah” hehhe pizz juga.

        Like

  20. Wah ramai yah… Saya pernah kesini sekali saja sih, santai doank order Chamomile Tea dengan cemilan Chicken Quesadilla…

    Rasa Quesadilla-nya membuat saya penasaran pengen balek lagi untuk mencicipi menu lainnya….

    Like

    1. hahaha makin memanas comment2 diatas.
      pendapat bro Kopibrik, BlogJurnalis, Bocahgendut dan MaMa sama2 benar. cuman point pentingnya blog ini adalah blog bebas, blog hobby dimana ada waktu luang baru berburu kuliner dan mengomentarinya.

      Bila makanan tersebut dirasa gak enak, belum tentu pembaca seperti saya setuju dengan pendapat MaMa. Belum tentu juga pemilik usaha makan mau memperbaiki citarasanya bila ada membaca blog ini.

      menurut saya, blog makanmana.net banyak membantu/memandu saya mau makan dimana yang enak, tempat yang belum pernah saya datangi dan saya memesan rekomen chef atau menu yang sama dengan MaMa untuk mencicipi apakah emang enak seperti yang dituliskan di blog ini.

      Bagi saya yang awam terhadap pembuatan kopi, hanya merasa kopi itu enak kalau tak akan membangkitkan asam lambung saya. hehehe…

      btw, saya penasaran dengan rasa Chamomile tea. saya pernah minum di Marin Lounge, gak enak bangett.. rasanya kok seperti basi gitu. tapi kalo Pizza Al Marin dan Spaghetti Vongole nya, enak! kebetulan dapat promo dari dealmedan.com, beli 1 pizza dapat 1 pizza. yummyy…!!

      Like

      1. hahaha.. gak juga. awalnya saya sering pake sumosave, tapi dealmedan lebih banyak promo kulinernya. hahaha

        Like

  21. setuju komen dari kopibrik tapi ga sepenuhnya bener sih. kan ini blog makanan bukan blog kopi. jadi wajar saja kalau kopibrik punya penilaian seperti itu krn dia cuman fokus di kopi. yang lainnya, he doesn’t care. tapi kalau kita buka coffee shop tanpa makanan saya rasa di medan tidak bisa jalan ya. seperti yang di jelaskan kopibrik sebagai espresso bar. nah kalau sudah ada makanan, makanan nya juga harus enak lah.. sebagai pendukungnya. makanya overall comment dari MaMa good food good coffee loo..

    Like

  22. kopimana.com deh ini. haha… setuju kok dengan info yang diberikan oleh bung kopibrik mengenai taste dari kopi sendiri tidak semua orang paham betul. sama halnya saya menilai rasa dari cake yang dibuat oleh siapapun sama saja. ya manis. kopi sendiri jika bener-bener dirasain ada beberapa flavour yang terkandung di dalamnya. tergantung dari daerah asalnya. jika penyajiannya tepat dan roastingnya juga. jd jangan egois dengan pemikiran sendiri. kalo kopi itu rasanya sama aja. ya pahit. bukan hanya itu masih ada dinilai dr body dll yang saya sendiri juga masih belajar. oleh sebab itu makanya ada q grader.. masternya kopi. hehe. just sharing just saying no offence

    Like

  23. Hmm…beberapa “cemilan” di atas sepertinya still MUCH TO HEAVY for combo with coffe…prefer the humble yet elegance drink named tea for them

    Like

    1. @Dewi: Bukankah anda sudah tahu kalau Blogjurnalis itu samadengan Kopibrik? Tidak lelahkan kalian menyerang saya? Hehehe, saya lebih suka berdebat tatap muka daripada online begini, apalagi ketika anda mengutarakan komentar dalam tulisan pun masih membingungkan runutannya.

      Like

      1. blogjurnalis : knp sih ngotot banget bt debat .kalau kritik yah kritik aja. ini Blog utk semua aneka makanan bro. sptnya kamu emosi sdr dr sy lht comment di atas sampai ke bwh. keep easy bro. kritik blh tp jgn sampai ngebet banget krn gk senang di jelasin balik .

        Like

  24. Seriously…(Berarti komen gw diatas td ga serius? LOL) anyway… saya beneran ga tau yg namanya coffee enak itu definitionnya apa.

    Sama seperti wine, ada byk wine and coffee connoisseur di luar sana, mereka bisa jelasin panjang lebar ttg asal usul anggur atau biji kopinya, rasanya, body, texture, wangi, citarasa dll, tp saya sama sekali buta mengenai ini.

    Bagi saya kopi yg enak ya ga asam, agak kental, wangi kopinya manis, dan saya minum kopi biasanya untuk cafein nya. Itu definisi saya, tapi bagi para pakar kopi bakalan blg bla bla bla.

    If it is not too much to ask, can somebody some experts ajarin saya ttg kopi? Hahaha…

    Like

    1. Hai Pak Ndut,
      Bisa kita tahu dimana lokasi rumah makannya (bukan cafe, haram), biar kita review based on our opinion. No hard feeling ya kalau kami mereview apa adanya… Barangkali, kali ini anda bisa buktikan omongan anda.

      Like

      1. Mau di review buat apa ya? Apa yang mao anda buktikan dari review anda?

        Yang saya khawatirkan adalah kata-kata “no hard feeling” anda, soalnya anda belum makan di tempat saya, saya uda disuruh “no hard feeling” duluan. Kok sepertinya anda uda yakin betul apa yang akan anda tulis akan menyinggung perasaan saya?

        Kalau mao makan cuma buat dikritik cari kesalahan dan pembuktian mending ga usa deh ya? Tempat makan saya masi jauh dari sempurna, kalau mao cari kesalahan seh banyak, soalnya yg sempurna itu cuma Tuhan.

        Like

      2. Hehe, ternyata bapak hanya bisa cakap aja, tanpa bisa membuktikan omongannya. Jika anda orang yang bisa pegang omongannya, ayo berikan alamatnya biar kami review, SEOBJEKTIF MUNGKIN. Tapi jika omongan kita ini hanya sekadar ‘cakap-cakap” tak berarti atau bahasa Medan-nya “ecek-ecek”, ya sudah, lupakan saja.

        Like

      3. wiw. terkesan aroma tidak sedap.awas di tindih bocah gendut hahahaha
        @bocahgendut :Peace:

        Like

      1. Setidaknya saya open mind, tidak menutup-nutupi identitas. Setidaknya tidak seperti @bocahgendut, yang sampai sekarang belum mau memberi alamat rumah makannya untuk direview di Blogjurnalis.com. Juga si @FatBoy, @Sabun, dll. Blog ini barangkali sudah terbiasa dengan sumber anonim dan komentator anonim.

        Like

      2. it’s getting hot in here. haha… kita itu semua juga saling belajar. ga da untungnya nyerang-nyerang gitu. rugi iya bahkan.. ah sudah lah.. haha

        Like

    2. @Dewi: Hehe, pertanyaanmu sulit dijawab. Hal inilah yang sering menjadi bahan diskusi antara blog dan jurnalisme. Kelemahan yang sering terjadi pada blog (er) ialah ketika kredibilitas, akurasi (terlalu banyak opini) dan sumber anonim tidak bisa dipertaruhkan atau dipertanggungjawabkan. Sementara jurnalisme punya kode etik sendiri. Kode etik blog?

      Terus terang, saya gak bisa menilai Makanmana.net. Biar waktu dan pembaca yang menilainya berdasarkan kualitas konten yang mereka post. Satu lagi, blogger sering terjebak pada paradigma: “Ini kan blog gue, suka-suka gue dong mau nulis apa?” Padahal, ada pembaca yang menilai.

      Salam,

      Like

      1. Saya pembaca pasif blog ini udah bertahun-tahun, merasa tergerak untuk meninggalkan sepatah dua kata. Blog ini juga sudah banyak membantu saya mencari informasi kuliner di kota Medan karena aslinya saya bukan orang Medan. Nama saya sengaja ditutupi, karena saya lebih nyaman menjadi komentator misterius, sama seperti halnya customer di sebuah restoran. Adil rasanya jika blog ini menghargai open discussion dan anonimitas.

        kopibrik.com, setelah saya telusuri dan baca, website anda ialah sebuah blog juga. Apabila demikian, anda seorang blogger juga, benarkah? Berikut statement di halaman about kopibrik: Kopibrik.com is Indonesia coffee blog based in Medan city, North Sumatra.

        Kalau anda seorang blogger juga, dimanakah kredibilitas blog anda juga sebagai blogger kopi? Apakah selama ini anda juga menulis dengan paradigma yang barusan anda lemparkan di komentar anda sendiri dengan menggunakan status anda sebagai jurnalis untuk membackup statement anda?

        Saya tidak ingin menciptakan kekeruhan disini, tapi marilah kita semua saling menghargai. Apabila memang ada artikel yang tidak benar, silahkan dikomentari, silahkan dikritik, TAPI…jangan memaksakan sebuah idealisme. Masing-masing blog punya karakter, punya etika sendiri, dan itulah yang menciptakan keragaman.

        Peace.

        Like

      2. Di statement pak kopibrik sebelum nya. Pak kopi menulis “awalnya saya menilai makanmana dst” skg bapak menyatakan tidak bisa menilai, dan membiarkan pembaca yang menilai. Jd bingung pak dengan tulisan jurnalis pak kopi.. dan kebetulan kan pak kopibrik skg menulis di blog makanmana.net, dimana menurut bapak bisa tulis sesuka nya, kenapa pak kopibrik ga nulis aja sesuai isi hati bapak? Toh bapak bisa kan mempertanggung jawab kan tulisan bapak, tdk seperti sumber2 yang lain, yang tdk mencantumkan nama… hehe..

        Like

      3. @blogjurnalis : coba tanyakan ke Pak Kopibrik apakah dia mengerti atau tidak.. karena itu ditujukan ke pak kopibrik, bukan pak blogjurnalis

        Like

      4. @blogjurnalis / kopibrik, hehe… ternyata bapak juga cuma bisa cakap saja, masa memberikan penilaian aja tidak ngerti.. tapi teori nya segudang. Lebih baik membaca komen dari sumber anonim saja, sederhana dan masuk akal.

        Like

      5. sptnya persaingan blog uda menutupi akal sehat ya wkwkwkwk…sampai sengaja ke blog org lain utk panas panasin sambil bw antek antek nya. keep easy bro. kuliner medan itu luas. org berhak pendapat apakah itu makanan enak atau tidak. lgian lidah org kan berbeda-beda. kenapa situ jd panas sdr sama spt blogjurnalis .kalau mmg mau jd pakar kuliner , daftar aja sono di acara TV . anyway saya ini baru mulai membaca blog makanmana.net dan menurut saya amat membantu, utk rasa mgkn mmg ada bbrp review yg menurut sy dari mama blg enak tp sy blg std, lidah msg” individu kan berbeda. kok situ sewot sih, mulai ngajak perang dari omongan kopi kpo dan kopi sampai topiknya melenceng mana mana wkwkwk

        Like

      6. Yuli, itu debatnya udah cukup lama koq, masing-masing emosi saat itu. Sekarang ini juga kami sudah banyak berbenah, berikut juga saudara kopibrik/blogjurnalis (org yg sama), semoga kedepannya kontribusi beliau juga memajukan kuliner Medan. Untuk soal rasa memang tidak bisa jadi patokan karena beda waktu beda pengalaman, namun kami tetap berusaha agar objektif dalam memberikan review. Terima kasih sudah membaca blog kami yah 😀

        Like

  25. Orang bisa komplain pada sebuah “coffee shop” asalkan tidak komplain pada kopinya. Karena esensi coffee shop sebenarnya pada kopi. That’s why the coffee shop use the 4 group head machine. Soal makanan, bisa dikomplain setajam-tajamnya. Karena pada dasarnya orang datang ke coffee shop untuk ngopi, bukan untuk makan atau menyenyangkan perut yang lapar.

    Saya melihat salah kaprah mengenai cafe, coffee shop, kedai kopi, warung kopi, dll masih kerap terjadi. Saya pikir, The Thirtysix as Coffee Shop sudah berhasil, tinggal bagaimana mereka mengedukasi konsumennya agar tidak salah kaprah bahwa mereka ialah coffee shop, bukan restoran.

    Saya pikir ini bisa jadi masukan buat krew Makanmana agar juga tidak ikut-ikutan salah kaprah. Makasih.

    Like

    1. kalao begitu dari pandangan saya sebagai orang awam… apakah tidak sebaiknya sebuah coffee shop, kopitiam,atau warung kopi menghilangkan saja menu makanan nya?? “karena orang datang untuk ngopi, bukan makan atau mengenyangkan perut” ini saya tangkap dari statement pak kopibrik 😀 Daripada sudah icip2 kopi yang sudah sangat wow, tiba-tiba ketemu makanan/cemilan nya “so so” saja?

      Like

      1. Menghilangkan menu makanan, tentu tidak langsung seidealis itu, tapi di Italia memang ada seperti itu, namanya Espresso Bar. Jadi yang disediakan hanya espresso, jika ada makanan paling hanya cake. Maklum orang Italia penggila espresso.

        Seperti pada link referensi yang anda submit, di coffee shop juga tetap ada makanan, tpi bukan makanan mengenyangkan perut, tapi sekadar cemilan atau snack. Idealnya orang ke kafe untuk ngopi dan bersosialisasi. Jika lapar, orang lebih baik ke restoran karena pasti restoran juga akan lebih fokus di makanan.

        So far, coffee dan makanan tetap sepadan, tapi makanan seperti apa, harus pula dibedakan dengan yang ada di restoran. *salam…

        Like

    2. “Orang bisa komplain pada sebuah “coffee shop” asalkan tidak komplain pada kopinya. Karena esensi coffee shop sebenarnya pada kopi.”
      Kopi dan coffee shop sendiri sudah elemen yang menyatu, jadi kalo kopinya tidak baik, sudah jelas coffee shop nya di komplen.

      “That’s why the coffee shop use the 4 group head machine.”
      Penggunaan mesin secanggih apapun, kalau tidak dibarengi kualitas barista dan biji kopi yang baik, apa gunanya? Apakah dengan 4 group head machine kualitas kopinya lebih baik dari coffee shop yang hanya punya 2/3 group head?

      “Karena pada dasarnya orang datang ke coffee shop untuk ngopi, bukan untuk makan atau menyenyangkan perut yang lapar.”
      Mungkin cara pandang kita berbeda, karena saya liat blog anda memang khusus membahas kopi, sedangkan blog ini lebih general. Saya datang ke satu tempat tentunya untuk makan dan minum, kecuali tempat itu tidak menyediakan makanan.

      Mungkin kopibrik punya penjelasan sendiri dimana salah kaprah kami mengenai cafe, coffe shop, kedai kopi, warung kopi, bistro, lounge, bar, rumah makan, restoran, dll?

      Like

      1. Dear Leo,

        Saya hanya ingin agar review ini tidak minumbulkan opini pembaca yang juga nanti bisa ikut-ikutan salah kaprah. Perhatikanlah misalnya gerai kopi yang memang fokus di kopi, saya tidak usah sebut brand-brand ternama yang barangkali sudah sangat familiar, kebanyakan hanya menyediakan snacks atau meals dan tentu saja serius di kopi. Karena itu mereka menyebutnya “coffee” di belakang brandnya, bukan cafe.

        Mengenai mesin kopi, memang benar tidak selamanya menjadi acuan untuk “kopi enak”, karena barista juga berperan. Karena Makanmana yang mereviewnya, alangkah lebih baik jika dijelaskan detail.

        Agar review ini lebih objektif dan tidak menimbulkan persepsi mungkin sebaiknya dilakukan wawancara dengan pengelola Thirtysix agar lebih balance reviewnya. Maklum, karena saya basicnya jurnalis, jadi lebih suka melakukan wawancara, observasi, tambah komentar konsumen. Walaupun ada opini, porsinya hanya sedikit.

        Sedikit tambahan, tentu saya pun tidak ingin menggurui, hanya sekadar berbagi pendapat. Mudah-mudahan dapat diterima. Salam…

        Like

      2. Oooo…pertama gw baca ga ngerti maksud nya bro kopibrik apa, sekarang mungkin saya mulai sedikit mengerti.

        Maksudnya: Blog makanmana tidak boleh review dan fokus berlebih terhadap kwalitas makanan kalau nama establishment tersebut memiliki title “Coffee” dibelakangnya. Lebih bagus kalau review nya lebih ke tentang “Coffee” nya aja. Gitu kan?

        Jadi orang kesana ekspektasi nya “Coffee” jadi ga salah kaprah. Kalau makanan kurang enak di establishment tersebut adalah normal, karena spesialisnya adalah “Coffee.”

        Tapi ini blog namanya MakanMana, bukan NgopiMana loh…? Orang-orang ke blog ini memang mau cari “Makan” bukan cari “Coffee”

        Makanya untuk itulah Blog nya Kopibrik lebih cocok untuk me-Review “Coffee” nya, biar Blog MakanMana lebih fokus ke “Makanan” nya.

        Berbagi segment donk…iya ga?

        Dan mengenai wawancara dengan pengelola/pemilik establishment, gw sebagai pemilik salah satu rumah makan (Tidak bole bilang Cafe, haram) di Medan malah merasa, lebih baik jangan ada wawancara.

        Kalau gw sebagai pemilik tau ada orang yang mao posting establishment gw, maka semuanya bakalan gw pastikan berjalan semulus dan sedahsyat mungkin demi review yang bagus. Malah jadi hilang objectivity nya. I want the honest opinion dari customer gw, kalau jelek yah jelek jadi bisa gw perbaiki, dan tau dimana letak kekurangannya.

        Gw suka blog MakanMana justru karena objectivity nya, kalau makanan enak yah bilang enak, kalau ga enak yah jujur juga, ga enak. Gw rasa harapan pembaca MakanMana juga begitu, mau review yang apa adanya, tanpa endorsement, dan tanpa dipengaruhi oleh pemilik establishment. Kalau ada pengaruh dari Pemilik malah jadi seperti “Iklan” atau “Titipan Sponsor.”

        Like

      3. ” Perhatikanlah misalnya gerai kopi yang memang fokus di kopi, saya tidak usah sebut brand-brand ternama yang barangkali sudah sangat familiar, kebanyakan hanya menyediakan snacks atau meals dan tentu saja serius di kopi. Karena itu mereka menyebutnya “coffee” di belakang brandnya, bukan cafe.”
        Pak Kopibrik mungkin bersedia untuk menyebut tempat tersebut agar saya tidak salah kaprah?

        Bolehkah dijelaskan juga mengenai detail mesin kopi? Maklum berhubung saya dan target pembaca blog ini yang lebih general dan jujur saya bukan pemerhati kopi, saya hanya menuliskan beberapa poin untuk dikomunikasikan ke pembaca. Karena seperti yang saya bilang sebelumnya, saya datang untuk makan dan minum. Urusan penjelasan mesin dan alasan penggunaan mesin 4 group head, saya rasa anda lebih capable dalam mereviewnya 🙂

        Agar review ini lebih objektif, menurut saya justru sebaiknya dilakukan mysterious visit, karena lebih honest dan natural. Untuk pengalaman wawancara, saya sudah pernah melakukannya beberapa kali, dan maaf tidak menemukan objektifitas dalam menulis sebuah review. Maklum, background saya bukan jurnalis, saya blogger, part time hobby dan tidak menganggap semua ini terlalu serius, jadi mohon dimaklumi. Pada esensinya, blog ini masih personal dan belajar, dan kami selalu terbuka untuk wawancara atau meet-up selanjutnya dengan tujuan mengenal kopi lebih jauh.

        Terima kasih atas pendapatnya bung, semoga dapat menjadi masukan agar kita lebih baik kedepannya. Salam sukses untuk kopibrik 😉

        Like

    3. Definition: Cafe

      http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/cafe

      http://www.merriam-webster.com/dictionary/cafe

      Thesaurus definition:
      Cafe: A public establishment where meals are served to paying customers for consumption on the premises
      Synonyms beanery, café (also cafe), caff [British], diner, eatery, grill
      Related Words cafeteria, lunch counter, luncheonette, lunchroom, snack bar; greasy spoon, hash house; chophouse, steak house; pizzeria; coffeehouse, coffee shop, estaminet, teahouse, tearoom, tea shop [chiefly British]; bar, barroom, inn, tavern.

      FYI

      Like

      1. Bung, semoga bung dapat memahami kalimat saya dengan baik. Wawancara yang saya maksud untuk memperkaya konten, agar tidak mencaplok terlalu banyak opini. Anda mau resto Anda direview orang dengan opini yang barangkali sumbernya masih kabur? Misalnya word of mouth yang pembaca tidak tahu itu siapa? Kalau mau, itu hak bung. Saya mikirnya dari sisi objektivitas dalam sebuah review. Saya harap bung memahaminya.

        Like

      2. Yah iya lah emang Hak gw…kok situ sewot seh? 😀 hahahaha ga lah bro just kidding, Santai aja bro, dibawa santai aja.

        Selera masing-masing orang kan beda-beda, semua orang kan bebas berpendapat. Soalnya namanya juga makanan, ga ada yang universal, ada yang bilang keasinan, ada yang bilang kemanisan, ada yang bilang udah pas, itu semua relatif.

        Ini kita cuma ngomongin makanan doank kok, bukan nasib alam semesta, tidak ada ilmu pasti disini. Jadi yah dibawa santai aja. If you don’t like what you see here yah, go ahead switch the channel, masih banyak channel kuliner diluar sana.

        Like

      3. Pak Leo,

        Saya gak ingin panjang lebar. Di lain kesempatan kalau saya bertemu Anda saya akan beritahu, itu pun kalau Anda mau bertemu dan bicara soal apa maksud saya.

        Dan, karena anda bilang blog anda ini sebagai part time hobby dan tidak menganggap terlalu serius, saya mau bilang apa lagi. Apa pun tanggapan saya berikutnya, sudah pasti akan berkesan “ecek-ecek”. Hehe, thanks so far sedikit berbeda pendapat dengan anda. Awalnya saya menilai Makanmana sebagai blog yang tahan dikritik dan mau menerima masukan.

        Sukses juga buat Makanmana…

        Like

      4. Terima kasih, semoga penjelasan dan informasi komentar diatas dapat diterima dengan baik. Mengenai fungsi blog, saya rasa sudah cukup jelas saya tulis di halaman about kami. Sudi kiranya meluangkan waktu untuk membaca dan memahami.

        Salam.

        Like

  26. Saya rasa ngga usah sebut word of mouth di dalam review. Review aja tempatnya seperti apa yang dilihat hari kunjungan itu nanti pengaruh orang yang belum pernah ke situ. Restoran bisnis itu kan progresif, learning from mistakes, yang penting mereka ada kemajuan. I’ve been there a few times, I thought the food was good but pricey.

    Like

    1. Sebenarnya ‘word of mouth’ itu kan salah satu trik marketing juga, yang paling ampuh tentunya. Tentu saja word of mouth juga berpengaruh ke decision making utk mengunjungi suatu tempat atau ga, terutama buat direview. Pada konteks review ini awalnya kami juga kecewa dengan servis dan makanannya, tetapi spt yang anda blg, it’s progressive, makanya kami kembali, dan ternyata ada improvisasi, so let’s write about it 🙂

      Like

    2. Saya setuju dengan Charito Bondoc, menyebutkan word of mouth dalam review, sama halnya memasukkan sumber anonim ke dalam satu informasi yang bisa dibaca banyak orang. Dampaknya bisa menimbulkan opini publik. Apabila tidak hati-hati, menyebutkan sumber anononim, dalam kode etik jurnalistik, dapat menimbulkan delik dan bisa jadi suatu saat yang merasa dirugikan dapat melakukan gugatan. Just sharing opinion…

      Like

  27. Blm pernah nyoba tp klo liat tampilan penyajian makanannya agak sedikit mirip dgn Hummingbird Eatery di Bdg ya..semoga kalo ntr kesitu rasanya pun agak mirip mengingat harganya pun mirip alias cukup mahils..hehee..

    Like

  28. Ya makanan nya mereka di awal nya emang parah sekali, even aglio nya aj ga enak, not to mention croque monsieur nya yang jg totally failed. Untung aj coffee nya enak hehehe 😀

    berarti skrg uda ada kemajuan yah, i think its time to revisit hahahaa

    Like

Berikan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s